KabarDermayu.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari, menyatakan bahwa kunjungan tiga pemimpin negara berbeda ke Indonesia dalam satu pekan untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto merupakan bukti meningkatnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia.
Menurut Qodari, rangkaian kunjungan ini mencerminkan pandangan komunitas internasional yang melihat Indonesia sebagai negara dengan ketahanan ekonomi dan stabilitas politik yang kuat. Hal ini menjadi fondasi penting untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
“Intensitas pertemuan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan internasional terhadap Indonesia sebagai mitra strategis, baik di tingkat kawasan maupun global,” ujar Qodari dalam keterangannya pada Selasa, 14 Juli 2026.
Qodari merinci tiga kunjungan pemimpin dunia tersebut dan hasil kerja sama yang disepakati. Keberagaman asal ketiga pemimpin menunjukkan konsistensi Indonesia dalam membangun persahabatan dan kemitraan dengan berbagai negara.
Pertama, pada Kamis, 2 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko. Pertemuan ini membuka peluang kerja sama di sektor industri, alat berat, dan teknologi, serta penguatan hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia.
Kedua negara juga meluncurkan Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia–Belarus 2026–2030. Dokumen ini menjadi kerangka kerja bersama untuk memperkuat kerja sama yang lebih konkret selama lima tahun mendatang.
Kedua, pada Senin, 6 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto menjamu Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat untuk mencapai 26 capaian kerja sama di berbagai bidang.
Cakupan kerja sama meliputi pengembangan ekonomi kawasan, energi bersih, hingga ekonomi digital. Kedua pemimpin negara juga membahas isu-isu kawasan dan global, serta menegaskan peran penting ASEAN sebagai jangkar stabilitas regional.
Ketiga, sehari kemudian, Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Kemitraan dengan India tidak hanya diperkuat di bidang ekonomi, tetapi juga meluas ke sektor pendidikan, penguatan kelembagaan, dan hubungan antarmasyarakat.
Kemitraan Indonesia dan India juga mencakup bidang kebudayaan. Hal ini tercermin dari komitmen kedua negara untuk merestorasi Kompleks Candi Prambanan.
Qodari menjelaskan bahwa setiap pertemuan Presiden Prabowo dengan para pemimpin dunia diarahkan untuk menghasilkan kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan. Kerja sama tersebut diharapkan memiliki nilai strategis bagi kedua belah pihak.
Melalui diversifikasi kemitraan, Indonesia dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak global. Selain itu, Indonesia juga dapat memperluas akses pasar ekspor, membuka peluang investasi baru, serta meningkatkan posisi tawarnya di berbagai forum internasional.
“Diplomasi Indonesia selalu berorientasi pada hasil karena diplomasi ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung pembangunan nasional,” tegas Qodari.
Ia melanjutkan, seluruh pertemuan dan kesepakatan tersebut merupakan cerminan dari prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam melindungi kepentingan nasional.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Qodari mengatakan bahwa Indonesia memilih untuk memperluas ruang kolaborasi. Indonesia tidak mempersempit pilihan ataupun berpihak kepada salah satu kekuatan besar.
“Prinsip tersebut sejalan dengan ungkapan Presiden Prabowo Subianto bahwa bagi Indonesia, 1.000 teman masih terlalu sedikit, sedangkan satu lawan sudah terlalu banyak,” tutur Qodari.





