Jerman Lirik SDM Indonesia: Airlangga Ungkap Kekurangan Generasi Muda

oleh -62 Dilihat
Jerman Lirik SDM Indonesia: Airlangga Ungkap Kekurangan Generasi Muda

KabarDermayu.com – Delegasi bisnis Jerman menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap potensi tenaga kerja Indonesia. Selain menjajaki peluang investasi di sektor mineral kritis dan manufaktur, Jerman membuka pintu lebar bagi pekerja Indonesia untuk mengisi ribuan kekosongan posisi di negara tersebut.

Isu ketenagakerjaan menjadi salah satu topik sentral dalam pertemuan antara delegasi bisnis Jerman, pemerintah Indonesia, dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Pertemuan ini digelar usai agenda kenegaraan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Jerman sangat antusias menjajaki kerja sama ekonomi pasca-rampungnya perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA).

“Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan di istana antara Presiden Prabowo dan Presiden Jerman. Jerman membawa delegasi bisnis yang mengadakan pertemuan, terutama menanyakan peluang bagi Indonesia pasca-EU CEPA,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Senin (15/6/2026).

Selain isu perdagangan dan investasi, delegasi Jerman juga menyoroti kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Airlangga menekankan bahwa Jerman menghadapi tantangan demografis serius akibat menyusutnya populasi usia muda, yang berpotensi memengaruhi kebutuhan tenaga kerja masa depan.

“Mereka mengapresiasi kesiapan sumber daya manusia kita dan sangat terbuka. Jerman adalah salah satu negara dengan jumlah generasi mudanya yang berkurang,” jelas Airlangga.

Menangkap peluang ini, pemerintah Indonesia mengusulkan pembahasan lebih lanjut melalui forum Joint Commission on Industry and Economy yang dijadwalkan pada September mendatang. Forum ini akan menjadi wadah strategis untuk merancang kerja sama penempatan tenaga kerja dan program pelatihan antara kedua negara.

“Mereka ingin memanfaatkan ini. Saya tawarkan dalam Joint Commission on Industry and Economy di bulan September nanti, kita bisa siapkan rencana bersama untuk penempatan tenaga kerja atau pelatihan, baik bagi orang Indonesia maupun Jerman,” paparnya.

Airlangga menambahkan bahwa pemerintah telah meminta Kadin Indonesia untuk mengoordinasikan langkah-langkah persiapan kerja sama ini dengan sektor dunia usaha.

“Saya meminta langsung Ketua Umum Kadin untuk mengorganisasi hal tersebut,” tegasnya.

Di sisi investasi, minat Jerman terhadap Indonesia juga terpantau sangat kuat. Delegasi bisnis Jerman aktif menanyakan sektor-sektor potensial yang dapat dikembangkan menjadi fokus kerja sama baru.

“Mereka menanyakan sektor apa lagi yang bisa mendorong kerja sama Indonesia dan Jerman,” kata Airlangga.

Sektor mineral kritis menjadi salah satu primadona investor Jerman. Perhatian khusus diberikan pada *rare earth* dan nikel, yang merupakan komponen krusial dalam pengembangan kendaraan listrik, baterai, dan teknologi energi bersih.

“Terutama mereka tertarik pada *rare earth*, juga termasuk nikel,” ungkap Airlangga.

Namun, pemerintah menekankan pentingnya investasi yang tidak memperburuk persoalan kelebihan kapasitas produksi global. Airlangga mencontohkan industri baja Eropa yang saat ini tengah melakukan pengurangan kapasitas produksi secara signifikan.

“Saya sampaikan bahwa Eropa saat ini merasa memiliki *excess capacity* baja, di mana mereka berencana memotong produksi baja di Eropa dari 80 juta menjadi 40 juta ton. Kita berharap sektor yang kita kembangkan tidak menambah *excess* tersebut, melainkan sektor lain yang masih sangat terbuka,” jelasnya.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menilai antusiasme dunia usaha Jerman terhadap Indonesia sangat tinggi, terutama setelah tercapainya kesepakatan IEU-CEPA yang membuka akses pasar lebih luas antara Indonesia dan Uni Eropa.

“Terlihat banyak sekali animo keinginan untuk berdagang memanfaatkan EU-CEPA. Jerman, sebagai negara terbesar di Uni Eropa, sangat antusias, dan kami pun demikian,” ujar Anindya.

Selain perdagangan, investor Jerman juga berkeinginan meningkatkan investasi langsung pada sektor-sektor strategis yang menjadi prioritas industrialisasi Indonesia.

“Mereka juga ingin menambah *foreign direct investment* pada industrialisasi, mulai dari mineral kritis, energi transisi, hingga *advanced manufacturing*,” katanya.

Anindya menambahkan bahwa Jerman bahkan mendorong adanya program pertukaran pekerja antara kedua negara. Skema ini dinilai tidak hanya memperkuat hubungan antar masyarakat, tetapi juga mempercepat transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

“Kami berterima kasih kepada Pak Menko yang telah memperjuangkan agar tenaga kerja migran kita bisa lebih banyak ke Jerman. Dari pihak mereka pun ingin ada pertukaran pekerja. Ini bukan hanya untuk membangun relasi *people to people* yang baik, tetapi juga untuk saling belajar, meningkatkan keilmuan di era industrialisasi, serta mendukung upaya pemerintah,” kata Anindya.