Kronologi Penculikan Dua Jurnalis Republika dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza

oleh -4 Dilihat
Kronologi Penculikan Dua Jurnalis Republika dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza

KabarDermayu.com – Ketegangan di perairan Gaza kembali menarik perhatian dunia internasional setelah militer Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) pada Senin, 18 Mei 2026. Dalam operasi tersebut, dua jurnalis dari media Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, dilaporkan menjadi korban penculikan. Keduanya tengah menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan bersama para relawan internasional.

Armada Global Sumud Flotilla membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza. Warga Gaza telah berbulan-bulan menghadapi blokade dan krisis kemanusiaan yang memprihatinkan. Insiden pencegatan ini memicu kecaman keras karena dilakukan terhadap kapal sipil yang berlayar di perairan internasional.

Perjalanan Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dimulai dari Turki pada awal Mei 2026. Mereka bergabung dengan kapal untuk menjemput armada Global Sumud Flotilla yang sebelumnya telah tertahan selama sekitar seminggu di perairan Yunani. Pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, kapal-kapal kemanusiaan yang menunggu di wilayah selatan Turki bergerak menuju perairan perbatasan Turki dan Yunani.

Tujuannya adalah untuk menjemput setidaknya 32 armada. Setelah proses penggabungan armada selesai, sekitar 50 kapal kemanusiaan gabungan GSF kemudian bersandar di Dermaga Albatros. Dari lokasi tersebut, armada bersiap untuk melanjutkan misi pelayaran menembus blokade Gaza, Palestina.

Baca juga: Harga LPG Subsidi Dijamin ESDM Tak Naik Meski Rupiah Melemah

Dalam sebuah unggahan video Republika yang dirilis pada 10 Mei 2026, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai terlihat ikut dalam rombongan misi kemanusiaan internasional tersebut. Situasi mulai memanas pada Senin, 18 Mei 2026, sekitar pukul 11.00 waktu Turki. Pasukan Israel dilaporkan mulai mencegat armada Global Sumud saat bergerak di perairan Siprus, yang berjarak sekitar 200 mil laut dari Gaza.

Sebelum komunikasi terputus, Bambang Noroyono sempat melaporkan keberadaan kapal-kapal perang Israel yang mendekati armada yang ia tumpangi. Kapal perang tersebut dilaporkan hanya berjarak sekitar seratus meter dari kapal Boralize yang dinaiki oleh para relawan. Tak lama setelah itu, muncul laporan bahwa Bambang Noroyono telah diculik oleh tentara Israel dalam operasi pencegatan tersebut.

Thoudy Badai, yang juga berada dalam rombongan relawan, dilaporkan turut menjadi korban penculikan. Terkait peristiwa ini, Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakan militer Israel. Ia menyatakan, “Kami mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer Zionis Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional.”

Andi Muhyiddin menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Selain itu, tindakan Israel juga melanggar prinsip kemanusiaan universal serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza. Ia menambahkan bahwa para relawan dalam armada tersebut tidak membawa senjata.

“Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina,” ujar Andi Muhyiddin. Ia menekankan bahwa warga Palestina telah berbulan-bulan menghadapi blokade, kelaparan, dan agresi tanpa henti.

Republika juga menyoroti keberadaan sembilan relawan asal Indonesia dalam misi tersebut, termasuk kedua jurnalisnya. “Dalam rombongan terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami,” lanjutnya.

Selain itu, Republika menyatakan dukungan penuh terhadap misi kemanusiaan internasional untuk Gaza. “Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia. Dan kami menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional,” tegas Andi Muhyiddin.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Israel terkait kondisi para relawan dan awak kapal yang ikut dalam armada Global Sumud Flotilla.