Mantan Capres AS: Militer Terkuat Dunia Tak Mampu Kalahkan Iran

oleh -4 Dilihat
Mantan Capres AS: Militer Terkuat Dunia Tak Mampu Kalahkan Iran

KabarDermayu.com – Mantan anggota kongres Amerika Serikat sekaligus mantan kandidat presiden, Ron Paul, secara terbuka mengakui bahwa negaranya mengalami kekalahan telak dari Iran. Hal ini diucapkannya meskipun Amerika Serikat telah menginvestasikan triliunan dolar untuk kekuatan militernya.

Paul mempertanyakan efektivitas militer termahal di dunia tersebut. Ia menyatakan bahwa anggaran militer Amerika Serikat jauh melampaui gabungan belasan negara lainnya. Namun, hasil yang didapat dinilai minim.

Sebagai perbandingan, Paul menyoroti anggaran militer Iran yang hanya sekitar satu persen dari anggaran Amerika Serikat. Meski demikian, Iran diklaim berhasil menghancurkan atau melumpuhkan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menyebutkan bahwa Iran mampu menghancurkan puluhan drone mata-mata canggih milik Amerika Serikat yang bernilai jutaan dolar. Tidak hanya itu, beberapa radar pengintai dengan nilai miliaran dolar juga berhasil dinonaktifkan, hanya dengan menggunakan drone buatan Iran yang memiliki biaya produksi jauh lebih rendah.

Menurut Paul, serangan mendadak yang dilancarkan oleh Amerika Serikat justru berbalik menjadi bumerang. Serangan tersebut seharusnya menimbulkan rasa takut pada Iran dan membuat mereka memohon belas kasihan.

Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat memiliki militer termahal di dunia, pasukan mereka kini tidak lagi mampu memenangkan perang yang dipaksakan secara ilegal oleh presiden.

AS ‘Tak Berkutik’

Analisis serupa juga muncul dari majalah The Atlantic. Artikel yang diterbitkan awal pekan ini menyatakan bahwa kekalahan Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran tidak dapat diperbaiki maupun diabaikan. Situasi ini berbeda dengan kekalahan-kekalahan sebelumnya di Afghanistan dan Vietnam.

Robert Kagan, penulis artikel tersebut, berpendapat bahwa kekalahan dalam konflik saat ini dengan Iran memiliki karakter yang sepenuhnya berbeda. Ia menekankan bahwa kekalahan ini tidak bisa diperbaiki ataupun diabaikan begitu saja.

Baca juga: Lamine Yamal Tuai Kontroversi, Jose Mourinho Beri Komentar

Situasi ini turut memperkuat posisi China dan Rusia sebagai sekutu Iran. Secara bersamaan, hal ini juga melemahkan pengaruh Amerika Serikat secara signifikan di kancah internasional.

Kagan menuliskan bahwa tidak akan ada lagi kembali ke kondisi seperti sebelumnya. Kemenangan besar Amerika Serikat yang dapat menghapus kerusakan yang sudah terjadi pun tidak mungkin terjadi. Selat Hormuz tidak akan lagi ‘terbuka’ seperti dulu.

Dengan menguasai selat tersebut, Iran muncul sebagai pemain utama di kawasan Timur Tengah dan juga salah satu pemain penting di panggung dunia.

Artikel tersebut juga mengungkapkan bahwa perang tersebut memperlihatkan Amerika Serikat sebagai negara yang tidak dapat diandalkan dan tidak mampu menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

Hal ini diperkirakan akan memicu reaksi berantai di seluruh dunia. Baik kawan maupun lawan akan mengingat kekalahan Amerika Serikat ini.

Artikel itu menyoroti pernyataan Presiden Donald Trump yang sering berbicara tentang siapa yang memiliki “kartu terbaik”. Namun, menurut penulis, belum jelas apakah Trump benar-benar memiliki kartu yang kuat untuk dimainkan.

Disebutkan pula bahwa sekitar lima pekan serangan yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi Iran, ternyata gagal menggulingkan pemerintahan Iran ataupun memaksanya memberikan konsesi sekecil apa pun.

Pemerintahan Trump dilaporkan berharap blokade terhadap pelabuhan Iran dapat menghasilkan sesuatu yang gagal dicapai melalui serangan militer. Namun, artikel tersebut menilai bahwa pemerintahan yang tidak menyerah setelah lima minggu digempur habis-habisan kemungkinan besar juga tidak akan tunduk hanya karena tekanan ekonomi.

Artikel tersebut juga meremehkan kemungkinan keberhasilan jika perang kembali dilanjutkan. Para pendukung perang dinilai gagal menjelaskan mengapa serangan baru akan berhasil mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai melalui 37 hari pemboman intensif.