Muhammad Ali Gemparkan Amerika: Kisah Legendaris Dua Syahadat

oleh -7 Dilihat
Muhammad Ali Gemparkan Amerika: Kisah Legendaris Dua Syahadat

KabarDermayu.com – Melalui Kisah Legendaris, VIVA Sport mengajak pembaca bernostalgia dengan berbagai cerita timeless dari dunia olahraga, mulai dari rivalitas panas, perjuangan atlet, hingga momen yang mengubah sejarah.

Bagi pencinta olahraga tinju, Muhammad Ali bukanlah sosok yang asing. Meski kini sang legenda telah meninggal dunia, prestasi-prestasinya tak lekang oleh waktu dan warisan semangatnya turun temurun.

Muhammad Ali terlahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. Ia mulai mencuri perhatian setelah meraih medali emas Olimpiade 1960. Empat tahun berselang, ia sukses merebut gelar juara dunia tinju kelas berat usai mengalahkan Sonny Liston pada 1964.

Kemenangan tersebut menjadi titik awal lahirnya legenda besar dalam sejarah tinju dunia. Namun, perjalanan Ali tidak hanya soal sabuk juara dan kemenangan spektakuler.

Ali tidak hanya dikenang sebagai petinju hebat, tetapi juga simbol perjuangan, keberanian, dan keyakinan. Selain itu, Ali juga dikenal sebagai figur kontroversial yang berani melawan arus.

Salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya adalah memeluk Islam pada tahun 1964. Keputusan itu langsung mengguncang Amerika Serikat.

Ali mengumumkan dirinya sudah mengucap dua kalimat syahadat dan bergabung dengan Nation of Islam, serta meninggalkan nama Cassius Clay. Ia kemudian memilih nama Muhammad Ali sebagai identitas barunya.

Baca juga: Perdebatan Kasus Penganiayaan di Daycare Yogya: Sahroni Tegaskan Pelanggaran HAM

Langkah tersebut memicu pro dan kontra. Banyak media di Amerika tetap memanggilnya dengan nama lama selama bertahun-tahun. Namun bagi Ali, keputusan memeluk Islam adalah bagian dari pencarian jati dirinya.

Perjalanan spiritual Ali tidak lepas dari pengaruh Malcolm X. Keduanya bertemu pada awal 1960-an dan langsung menjalin hubungan dekat. Malcolm X bahkan menjadi sosok penting yang membantu Ali memahami ajaran Islam dan memperkenalkannya lebih dalam kepada Nation of Islam.

Tak lama setelah menjadi juara dunia, Ali secara terbuka menyatakan dirinya seorang Muslim. Momen itu menjadi salah satu titik paling bersejarah dalam perjalanan hidupnya. Keberanian Ali kembali terlihat ketika ia menolak wajib militer Amerika Serikat pada era Perang Vietnam.

Ia menegaskan keyakinannya sebagai Muslim membuat dirinya menolak ikut perang. “Saya tidak punya masalah dengan rakyat Vietnam,” menjadi salah satu kalimat paling terkenal dari Ali saat itu.

Keputusan tersebut membuat Ali harus menerima konsekuensi besar. Gelar juara dunia dicabut, lisensi bertinjunya dibekukan, dan ia dijatuhi hukuman penjara, meski akhirnya tetap bebas sambil mengajukan banding.

Selama lebih dari tiga tahun, Ali kehilangan masa emas kariernya. Namun situasi itu justru mengangkat namanya menjadi simbol perjuangan hak sipil dan kebebasan berpendapat di Amerika.

Setelah hukumannya dibatalkan Mahkamah Agung AS pada 1971, Ali kembali naik ring dan membangun salah satu comeback terbesar dalam sejarah olahraga. Ia kembali merebut gelar juara dunia kelas berat dan terlibat dalam sejumlah duel legendaris melawan Joe Frazier hingga George Foreman.

Salah satu misteri terbesar dalam karier Ali adalah rivalitas sengitnya dengan Frazier yang melahirkan pertarungan ikonik “Thrilla in Manila”. Sementara duel melawan Foreman di Zaire lewat laga “Rumble in the Jungle” semakin mengukuhkan statusnya sebagai legenda.

Ali akhirnya pensiun dari dunia tinju pada 1981. Tiga tahun kemudian, ia mengumumkan menderita penyakit Parkinson. Meski kondisi kesehatannya terus menurun, Ali tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Ia juga menerima penghargaan bergengsi Presidential Medal of Freedom pada 2005. Kehadirannya saat pelantikan Barack Obama pada 2009 menjadi salah satu momen emosional yang dikenang publik dunia.

Di luar ring, Ali tetap menjadi ikon global. Bahkan namanya mendapat perlakuan khusus di Hollywood Walk of Fame. Berbeda dengan tokoh dunia lainnya, nama Muhammad Ali tidak dipasang di trotoar, melainkan di dinding dekat Dolby Theatre.

Alasannya sederhana namun penuh makna. Ali tidak ingin nama Nabi Muhammad diinjak-injak orang yang berjalan di atas trotoar. “Saya menyandang nama Nabi Muhammad yang kita cintai, dan saya tidak ingin namanya diinjak-injak,” ujar Ali kala itu.

Keputusan tersebut membuat Muhammad Ali menjadi satu-satunya tokoh dunia yang memiliki bintang Walk of Fame di dinding, bukan di lantai. Muhammad Ali meninggal dunia pada 3 Juni 2016 dalam usia 74 tahun.

Namun warisannya tetap hidup hingga sekarang. Ia bukan hanya legenda tinju, melainkan simbol keberanian, perjuangan, dan keyakinan yang melampaui dunia olahraga.