Nasib Yuan Berbalik: Data Terbaru China Bikin Pasar Was-was

oleh -6 Dilihat
Nasib Yuan Berbalik: Data Terbaru China Bikin Pasar Was-was

KabarDermayu.com – Yuan China menghentikan reli penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Pelemahan ini terjadi di tengah munculnya sinyal bahwa aktivitas manufaktur Negeri Tirai Bambu kembali kehilangan momentum pada Mei 2026.

Pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026, yuan tercatat melemah sekitar 0,03 persen ke level 6,7682 per dolar AS. Mata uang China tersebut sebelumnya mencatat penguatan selama dua pekan berturut-turut dan sempat menyentuh posisi terkuat sejak awal 2023.

Sementara itu, yuan offshore yang diperdagangkan di luar daratan China juga mengalami penurunan sekitar 0,03 persen ke level 6,7671 per dolar AS dalam perdagangan Asia.

Pergerakan ini terjadi setelah survei resmi pemerintah China menunjukkan aktivitas pabrik pada Mei mengalami stagnasi. Data tersebut menambah kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi China belum sepenuhnya berakhir, terutama setelah sejumlah indikator ekonomi pada April menunjukkan pertumbuhan mulai melambat.

Analis dari Nanhua Futures menilai kekuatan yuan dalam beberapa bulan terakhir masih banyak ditopang oleh kinerja ekspor China yang relatif kuat.

“Meski fundamental ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan, RMB tetap relatif kuat dengan dukungan utama berasal dari data ekspor. Jika pertumbuhan ekspor secara keseluruhan melambat secara signifikan, dukungan penguatan jangka pendek untuk RMB dapat melemah,” tulisnya, sebagaimana dikutip dari The Star, Senin, 1 Juni 2026.

Selain faktor ekspor, penguatan yuan belakangan ini juga menciptakan efek berantai di pasar valuta asing. Banyak perusahaan memilih menunda pembelian dolar AS dan mempercepat konversi devisa mereka ke yuan karena berharap mata uang domestik tetap kuat.

Namun, para analis memperingatkan bahwa permintaan dolar yang tertahan tersebut dapat kembali muncul dalam jumlah besar apabila penguatan yuan mulai mereda. Kondisi ini berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap mata uang China dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, kalangan analis dari Bank of America melihat adanya faktor musiman yang dapat menguntungkan dolar AS terhadap yuan. Periode pembayaran dividen perusahaan-perusahaan China yang tercatat di bursa Hong Kong biasanya mencapai puncaknya pada Juni hingga Agustus, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.

Sebelum pasar dibuka, Bank Sentral China menetapkan kurs tengah yuan di level 6,8167 per dolar AS. Ini merupakan posisi terkuat sejak 14 Februari 2023. Namun angka tersebut masih lebih lemah sekitar 524 basis poin dibandingkan perkiraan Reuters.

Sebagai informasi, yuan diperbolehkan bergerak hingga 2 persen di atas atau di bawah kurs tengah yang ditetapkan setiap hari oleh otoritas moneter China. Sementara itu, di pasar global, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia naik tipis 0,039 persen menjadi 99,05.

Penguatan dolar terjadi ketika investor menanti perkembangan pembicaraan perdamaian di Timur Tengah serta petunjuk terbaru terkait arah kebijakan suku bunga bank-bank sentral utama dunia.

Harga minyak juga melonjak lebih dari 2 persen pada awal perdagangan setelah Israel memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi global meskipun gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu.

Baca juga: Gerindra Tanggapi Kritik Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo

Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi China kini menjadi dua faktor utama yang diperhatikan investor. Jika aktivitas manufaktur dan ekspor China terus melemah, tekanan terhadap yuan berpotensi semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.