Perbandingan Harga Bensin RI vs Malaysia: Mana Lebih Murah?

oleh -6 Dilihat
Perbandingan Harga Bensin RI vs Malaysia: Mana Lebih Murah?

KabarDermayu.com – Di tengah dinamika harga energi global dan potensi krisis pasokan, banyak negara mengambil langkah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) demi meringankan beban anggaran. Namun, negara tetangga, Malaysia, justru menempuh jalur yang berbeda dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi.

Pemerintah Malaysia memutuskan untuk terus menanggung biaya subsidi BBM meskipun harus menggelontorkan dana yang sangat besar setiap bulannya. Keputusan ini diambil untuk melindungi masyarakat dari lonjakan harga minyak dunia.

Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kenaikan harga BBM di tengah tekanan pasokan energi global. Ia menekankan komitmen pemerintah untuk terus menanggung biaya subsidi demi menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Anwar saat peluncuran Program Madani Rakan Muda di Sungai Petani, Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan besaran dana subsidi yang harus ditanggung pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. Angka tersebut menunjukkan fluktuasi yang signifikan, tergantung pada pergerakan harga minyak dunia.

Anwar Ibrahim merinci bahwa biaya subsidi per bulan bisa mencapai RM5 miliar hingga RM3 miliar, bahkan sempat melonjak menjadi RM7 miliar. Namun, angka tersebut kemudian menurun menjadi sekitar RM4 miliar. Angka-angka ini menunjukkan besarnya komitmen fiskal yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia.

Jika dikonversikan ke dalam Rupiah dengan kurs Rp4.400 per Ringgit Malaysia, subsidi sebesar RM7 miliar setara dengan Rp30,8 triliun per bulan. Subsidi sebesar RM5 miliar bernilai sekitar Rp22 triliun, RM4 miliar sekitar Rp17,6 triliun, dan RM3 miliar sekitar Rp13,2 triliun. Angka-angka ini menggarisbawahi skala pengeluaran negara untuk subsidi BBM.

Anwar menjelaskan bahwa beban subsidi yang ditanggung pemerintah akan menjadi sangat besar apabila kondisi ini berlanjut dalam jangka panjang. Ia memberikan contoh perhitungan jika pemerintah mengeluarkan subsidi sebesar RM3 miliar setiap bulan selama 10 bulan, total dana yang dibutuhkan mencapai RM30 miliar atau setara dengan Rp132 triliun.

Meskipun demikian, Anwar meyakini bahwa pemerintah masih mampu menanggung beban tersebut. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai langkah penghematan anggaran dan penutupan celah kebocoran keuangan negara. Pemerintah berupaya mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Ia juga menolak usulan dari beberapa pihak yang menyarankan pemerintah untuk mengambil utang baru demi mempertahankan subsidi energi. Menurutnya, berutang untuk tujuan ini akan membebani generasi mendatang. Solusi yang ditawarkan adalah mengelola keuangan negara secara bijak dan melakukan apa yang memungkinkan.

Harga Bensin Malaysia Salah Satu yang Termurah

Kebijakan subsidi yang terus dipertahankan oleh pemerintah Malaysia telah menjadikan harga BBM di negara tersebut sebagai salah satu yang terendah di dunia. Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa harga bensin RON95 saat ini dipatok sebesar RM1,99 per liter.

Dengan kurs Rp4.400 per Ringgit Malaysia, harga tersebut setara dengan sekitar Rp8.756 per liter. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata harga bensin di banyak negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Keberhasilan mempertahankan harga BBM yang rendah ini adalah hasil dari pengelolaan subsidi yang cermat tanpa menambah utang negara.

Dibandingkan dengan Harga BBM di Indonesia

Kebijakan Malaysia yang mempertahankan harga BBM bersubsidi menjadi sorotan, terutama jika dibandingkan dengan situasi di Indonesia. Di Indonesia, harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan. Mulai 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, naik dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

Sementara itu, Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan harga menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Kenaikan ini mencerminkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seiring dengan perkembangan pasar dan kebijakan energi nasional.

Di sisi lain, harga BBM subsidi di Indonesia masih dipertahankan pada tingkat yang terjangkau. Pertalite dijual seharga Rp10.000 per liter, sementara Biosolar seharga Rp6.800 per liter. Jika dibandingkan secara langsung, harga bensin RON95 Malaysia yang setara Rp8.756 per liter masih lebih murah dibandingkan harga Pertalite di Indonesia.

Selisih harga antara bensin RON95 Malaysia dan Pertalite Indonesia mencapai sekitar Rp1.244 per liter. Perbandingan ini secara jelas menunjukkan betapa pentingnya kebijakan subsidi energi bagi pemerintah Malaysia dalam menjaga daya beli masyarakatnya.

Namun, konsekuensi dari kebijakan ini adalah beban fiskal yang sangat besar bagi negara. Pemerintah Malaysia harus siap menanggung biaya subsidi yang signifikan, bahkan sempat mencapai lebih dari Rp30 triliun dalam satu bulan ketika harga minyak dunia melonjak.