KabarDermayu.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti potensi perundungan di kalangan siswa yang dapat dipicu oleh sistem perankingan capaian akademik di sekolah.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada terciptanya lingkungan fisik dan sosial yang aman serta nyaman bagi seluruh siswa. Hal ini penting agar proses belajar mengajar dapat berjalan optimal.
Mendikdasmen Mu’ti menekankan bahwa keamanan di sekolah tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup keamanan sosial dan psikologis. Ia mengamati bahwa kondisi sosial di banyak sekolah belum sepenuhnya aman.
Baca juga: Thom Haye Balas Sindiran Borneo FC: Persib Juara Bukan Cuma Head-to-Head
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keamanan intelektual merupakan faktor krusial dalam menjamin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aman, nyaman, dan inklusif bagi semua siswa.
Dalam konteks ini, sistem perankingan capaian akademik berpotensi menciptakan perbandingan antar siswa yang tidak sehat. Perbandingan ini seringkali berujung pada praktik perundungan.
Mu’ti memberikan contoh, “Misalnya yang sudah besar tidak bisa mengerjakan soal yang kecil, yang gede kok gak bisa, ini yang kecil aja bisa itu kan tidak sehat.” Situasi seperti ini dapat menimbulkan rasa rendah diri dan persaingan yang tidak sehat.
Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya peran guru dalam mentransformasi cara pandang siswa terhadap proses belajar dan hasil yang dicapai, termasuk angka atau ranking.
Perubahan cara pandang ini, lanjutnya, telah diintegrasikan oleh Kemendikdasmen dalam kebijakan yang disebut “deep learning”.
Kata kunci pertama dalam implementasi “deep learning” adalah upaya memuliakan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.
“Sehingga menurut saya memang ada realitas dimana cara kita melakukan pendekatan kepada murid-murid itu harus berubah. The way we deliver knowledge itu tidak bisa dilepaskan dari value, tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan yang kita harus memuliakan semua mereka,” pungkas Mu’ti.





