KabarDermayu.com – Seorang petani di Irak dilaporkan tewas secara tragis setelah secara tidak sengaja menemukan sebuah pangkalan militer rahasia milik Israel. Peristiwa ini terungkap berdasarkan laporan investigasi dari The New York Times.
Dalam laporannya, media tersebut menguraikan bahwa Israel diduga telah mendirikan sebuah pos rahasia di wilayah gurun barat Irak. Pangkalan ini dilaporkan beroperasi selama periode perang antara Iran dan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel.
Fasilitas rahasia ini diduga kuat digunakan untuk mendukung operasi serangan udara Israel. Selain itu, tempat tersebut juga berfungsi sebagai lokasi strategis bagi unit pasukan khusus Israel yang beroperasi di kawasan tersebut.
Petani yang menjadi korban, diketahui bernama Awad al-Shammari. Pada tanggal 6 Maret, ia sedang dalam perjalanan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan sehari-hari. Namun, dalam perjalanannya, ia secara tidak sengaja menemukan keberadaan unit militer rahasia Israel tersebut.
Menyadari adanya aktivitas yang mencurigakan di gurun Najaf-Karbala, al-Shammari segera melaporkan temuan tersebut kepada aparat keamanan setempat. Laporan ini menjadi awal dari rangkaian peristiwa tragis yang menimpanya.
Baca juga: Borneo FC Ditahan Persijap, Persib Dekati Hattrick Juara Super League
Sayangnya, sebelum pasukan keamanan Irak sempat tiba di lokasi, al-Shammari dan dua tentara Irak yang juga berada di dekatnya dilaporkan sempat berhadapan langsung dengan pasukan Israel. Insiden ini berujung pada konfrontasi yang mematikan.
Dalam konfrontasi tersebut, kendaraan yang ditumpangi oleh al-Shammari dan dua tentara Irak menjadi sasaran serangan helikopter. Serangan ini mengakibatkan al-Shammari tewas seketika, sementara kedua tentara Irak lainnya mengalami luka-luka.
Diduga kuat, pasukan Israel yang berada di gurun tersebut memiliki sistem pengawasan canggih. Mereka diduga berhasil memantau komunikasi al-Shammari melalui sistem pengawasan mereka, bahkan melacak ponselnya, yang kemudian menjadikan sang petani sebagai target serangan mematikan.
Keluarga al-Shammari dilaporkan berusaha mencari keberadaannya selama dua hari penuh. Pencarian ini berakhir dengan penemuan nasib tragis yang dialami oleh al-Shammari, seperti yang diungkapkan oleh The New York Times.
“Kami diberi tahu ada mobil pikap terbakar, mirip milik Awad, di lokasi itu. Tapi tidak ada yang berani mendekat. Saat kami tiba di sana, kami menemukan mobil dan jasadnya sudah hangus terbakar,” ujar sepupu al-Shammari, Amir, seperti dikutip dari laman presstv.ir pada Senin, 18 Mei 2026.
Berdasarkan hasil investigasi tersebut, terungkap bahwa pasukan Israel mendirikan fasilitas rahasia ini sesaat sebelum perang pecah pada akhir Februari. Basis ini kemudian digunakan secara aktif dalam serangan terhadap pasukan Irak pada bulan Maret, ketika tentara Irak nyaris membongkar lokasi tersebut.
Media-media Israel sendiri juga sempat melaporkan adanya penempatan tim penyelamat dan unit komando oleh pasukan Zionis di pos terdepan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengevakuasi awak pesawat mereka yang jatuh di wilayah Iran, apabila diperlukan.
Lebih lanjut, sumber yang diwawancarai oleh The New York Times mengindikasikan adanya pangkalan Israel kedua yang berlokasi di gurun yang sama. Pangkalan ini dilaporkan sudah ada sebelum perang terbaru melawan Iran, dan bahkan pernah digunakan saat konflik Iran pada Juni 2025.
Laporan mengenai aktivitas militer ilegal Israel di wilayah Irak ini sontak memicu kemarahan publik di negara tersebut. Tuntutan agar pemerintah Irak memberikan penjelasan resmi dan meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait pun semakin menguat.
Sumber The New York Times juga mengungkapkan bahwa pangkalan yang ditemukan oleh al-Shammari sebenarnya sudah diketahui oleh Washington setidaknya sejak Juni 2025. Fakta ini menimbulkan dugaan bahwa Amerika Serikat mungkin telah menyembunyikan informasi krusial tersebut dari pemerintah Irak, meskipun kedua negara memiliki hubungan sekutu yang erat.
Seorang anggota parlemen Irak, Raed al-Maliki, dengan tegas mengecam tindakan Washington. Ia menyoroti pemberian akses wilayah udara Irak kepada pasukan Israel, yang dianggapnya sebagai tindakan yang sangat mengkhawatirkan.
“Amerika Serikat menyerahkan wilayah udara Irak kepada entitas Israel selama perang dan memerintahkan sistem radar dimatikan. Sekarang semakin jelas bahwa wilayah Irak juga digunakan untuk membangun pusat intelijen rahasia atau pangkalan milik entitas Zionis,” tegas al-Maliki.





