KabarDermayu.com – Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, memberikan tanggapannya terkait isu dugaan penistaan agama yang sempat menyerang Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK).
Menurut Sudirman, serangan isu tersebut justru menunjukkan bahwa JK memiliki modal sosial yang sangat tinggi.
Ia menambahkan bahwa JK tidak perlu bersusah payah membela diri sendiri, karena banyak orang yang secara sukarela bersaksi dan membantunya.
Pernyataan ini disampaikan Sudirman Said setelah menghadiri acara Tasyakuran Milad ke-84 Jusuf Kalla di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 16 Mei 2026.
“Menurut saya ini adalah buah atau hikmah dari orang yang punya modal sosial tinggi. Jadi yang membela bukan beliau sendiri, tapi yang membela banyak orang,” ujar Sudirman kepada wartawan.
Ia menjelaskan bahwa banyaknya orang yang membantu JK secara sukarela bukan karena diminta, melainkan karena mereka menyaksikan langsung rekam jejak JK selama ini.
“Karena terlalu banyak orang yang dalam perjalanan hidupnya itu menjadi saksi bahwa Pak JK tidak seperti yang disampaikan oleh mereka-mereka itu,” imbuhnya.
Di sisi lain, Sudirman Said mengungkapkan rasa syukurnya karena situasi akibat isu tersebut sudah mulai mereda. Ia berharap proses hukum dapat ditegakkan.
“Dan kita syukuri keadaan sudah mereda, akhirnya kebenaran adalah kebenaran dan mudah-mudahan hukum bisa ditegakkan dan akhirnya suara-suara nurani bisa dikembalikan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Sebelumnya, Jusuf Kalla memberikan ceramah di Masjid UGM pada 5 Maret 2026, dalam rangka Ramadhan 1447 Hijriah. Ceramah tersebut bertajuk “Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar”.
Namun, ceramah tersebut baru menjadi viral pada pertengahan April 2026.
Baca juga: Kisah Legendaris Adu Jotos Pebulutangkis Thailand yang Hebat
JK dilaporkan oleh DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke Polda Metro Jaya terkait ceramahnya, terutama mengenai pernyataan mati syahid. DPP GAMKI melaporkan JK pada 12 April 2026.
Menanggapi laporan tersebut, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa dirinya hanya berbicara mengenai perdamaian saat memberikan ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Ramadhan 1447 Hijriah. Ia menegaskan tidak melakukan penistaan agama.
“Acara di UGM itu, acara ceramah pada bulan puasa, seperti dilakukan di mana-mana, di masjid. Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Jadi, khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian,” kata JK, dikutip Minggu, 19 April 2026.
JK juga menjelaskan bahwa dalam ceramah tersebut, dirinya membahas mengenai perdamaian yang merupakan akhir dari sebuah konflik.
Dengan demikian, JK mengatakan sempat membahas sejumlah konflik di dunia, termasuk 15 konflik di Indonesia.
“Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena wilayah kayak Timtim (Timor Timur), ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu,” katanya.
Selain itu, JK mengatakan sempat membahas konflik di Indonesia yang terjadi karena agama, seperti di Maluku dan Poso.
Saat membahas hal tersebut, JK menjelaskan bahwa kedua belah pihak yang berkonflik memiliki konsep terkait mati karena membela agama. Konsep tersebut dalam Islam dikenal dengan syahid, sementara pada Kristen dinamakan martir.
Jusuf Kalla juga menjelaskan bahwa ceramah tersebut disampaikan agar calon pemimpin bangsa tidak menjadikan agama sebagai sumber konflik.
“Jangan sekali-sekali agama dipakai untuk berkonflik, jangan! Anda calon-calon pemimpin, calon-calon pemimpin semua ini,” katanya.





