Tanggapan MC Lomba Cerdas Cermat MPR atas Pernyataannya yang Dianggap Kurang Pantas

oleh -5 Dilihat
Tanggapan MC Lomba Cerdas Cermat MPR atas Pernyataannya yang Dianggap Kurang Pantas

KabarDermayu.com – Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Selain dugaan ketidakadilan dalam keputusan juri, pembawa acara atau MC lomba, Shindy Lutfiana, juga menuai perhatian.

Shindy mendapatkan kritik tajam karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap peserta yang merasa diperlakukan tidak adil. Ia justru menekankan kompetensi dan ketelitian dewan juri dalam menilai jawaban para peserta.

“Baik adik-adik mohon diterima keputusan dewan juri karena tentu juri yang hadir hari ini sudah sangat kompeten dan sangat teliti mendengarkan jawaban dari adik-adik,” ujar Shindy saat itu.

Situasi semakin memanas ketika Shindy menyinggung peserta bernama Josepha Alexandra yang mengajukan protes. Ia menyatakan bahwa kesalahan ada pada Josepha, bukan pada dewan juri. Josepha sebelumnya mempersoalkan jawabannya yang dinilai salah, padahal jawaban serupa dari tim lawan justru dianggap benar oleh juri.

“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja. Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai,” ucap Shindy kala itu, yang kemudian menuai kontroversi.

Menyusul gelombang kritik yang diterimanya, Shindy akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial Instagram pribadinya. Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesal atas tindakannya.

“Melalui unggahan ini saya Shindy Lutfiana selaku MC pada kegiatan lomba cerdas cermat (LCC) Empat pilar MPR RI 2026 Provinsi Kalimantan Barat yang diselenggarakan pada 9 Mei 2026. Mohon izin untuk menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan saya yang beredar luas di media sosial saat pelaksanaan ‘Babak Final’ berlangsung,” tulisnya dalam pernyataan yang dikutip pada Rabu, 13 Mei 2026.

Shindy meminta maaf atas pernyataannya yang menyebutkan, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja”. Ia menyadari bahwa pernyataan tersebut tidak seharusnya diucapkan oleh seorang pembawa acara.

Baca juga: Hyundai Hillstate Dekati Megawati Sebelum Mundur dari Timnas Voli, 7 Poin Penting Rekrut Megatron

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan melukai perasaan berbagai pihak, khususnya adik-adik peserta lomba, guru-guru pendamping/pembimbing dari SMA Negeri 1 Pontianak, serta seluruh masyarakat terutama masyarakat Provinsi Kalimantan Barat yang mengikuti dan memberikan perhatian terhadap kegiatan ini,” lanjutnya.

Atas insiden tersebut, Shindy mengungkapkan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh pihak yang terlibat dan merasa dirugikan. Ia mengakui bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih berhati-hati, bijaksana, dan cermat dalam memilih kata saat bertugas di ruang publik.

“Peristiwa ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati, bijaksana, serta lebih cermat dalam memilih dan menggunakan diksi ketika menjalankan tugas diruang publik. Besar harapan saya, permohonan maaf saya ini dapat diterima, dan saya berkomitmen untuk menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi terhadap diri saya, agar dapat bersikap lebih baik dan bijak kedepannya,” tulis Shindy dalam pernyataannya.

Kronologi Kejadian

Lomba cerdas cermat yang menjadi sorotan publik ini bermula ketika MC membacakan sebuah pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang melibatkan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Peserta dari Grup C, Josepha Alexandra, memberikan jawaban: “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”

Namun, jawaban tersebut justru mendapat nilai minus lima dari dewan juri. Ketika soal yang sama dilemparkan kepada kelompok lain, Grup B memberikan jawaban dengan susunan kalimat yang identik. Anehnya, kali ini juri memberikan nilai penuh sepuluh poin.

Perbedaan penilaian ini sontak memicu protes dari peserta Grup C. Mereka merasa telah memberikan jawaban yang benar sesuai substansi pertanyaan. Pihak juri beralasan bahwa mereka tidak mendengar penyebutan kata “DPD” dari jawaban Grup C dan menekankan bahwa artikulasi merupakan faktor penting dalam penilaian.