Wapres AS: Israel Berusaha Pengaruhi Warga AS untuk Gagalkan Kesepakatan Akhiri Perang Iran

oleh -1 Dilihat
Wapres AS: Israel Berusaha Pengaruhi Warga AS untuk Gagalkan Kesepakatan Akhiri Perang Iran

KabarDermayu.com – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, melontarkan tuduhan serius terhadap sejumlah pejabat di pemerintahan Israel. Ia menduga adanya upaya terorganisir untuk memengaruhi opini publik di Amerika Serikat guna menggagalkan kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang dengan Iran.

Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Vance dalam sebuah wawancara dengan podcaster ternama AS, Joe Rogan, yang ditayangkan pada hari Rabu. Vance tidak ragu melontarkan kritik tajam terhadap Israel, sebuah sikap yang jarang terlihat dari seorang pejabat tinggi AS di ruang publik.

Vance secara tegas membela kesepakatan yang telah dicapai oleh Amerika Serikat dengan Iran pada bulan lalu, yang dirancang untuk mengakhiri konflik berkepanjangan.

“Saya tahu tanpa keraguan sedikit pun bahwa ada orang-orang di dalam pemerintahan Israel yang berusaha mengubah arah kebijakan kami karena mereka ingin melanjutkan kampanye militer,” ungkap Vance, seperti dikutip dari laman Al Jazeera pada Jumat, 17 Juli 2026.

Ini bukan kali pertama Vance melontarkan kritik terhadap Israel. Sikapnya ini menandai peningkatan ketegangan terbuka antara kedua negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat.

“Ada kampanye pengaruh asing yang secara harfiah didanai untuk menggagalkan kesepakatan yang sedang saya perjuangkan,” tegas Vance kepada Rogan.

Ia merujuk pada sebuah laporan dari Time Magazine yang terbit pada hari Senin. Laporan tersebut menyebutkan bahwa seorang mantan manajer kampanye Donald Trump telah direkrut atas nama Israel untuk menjalankan sebuah kampanye digital. Tujuannya adalah untuk memengaruhi pandangan masyarakat Amerika mengenai Israel dan perang dengan Iran.

“Anda telah melihat kampanye yang sangat terorganisir dan didanai dengan sangat besar untuk mencoba menggagalkan negosiasi dan menggagalkan kesepakatan tersebut. Ada beberapa pihak dalam sistem mereka yang kami ketahui tanpa keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah opini publik Amerika agar perang ini terus berlangsung tanpa batas waktu,” tambahnya.

Jurnalis Al Jazeera, Patty Culhane, yang melaporkan dari Washington DC, menjelaskan bahwa kampanye pengaruh yang dikaitkan dengan Israel ini kemungkinan besar ditujukan untuk memengaruhi basis pendukung Trump dari kelompok MAGA (Make America Great Again). Kelompok ini diketahui semakin terpecah dalam memandang kebijakan AS terhadap Israel.

“Itu menjelaskan mengapa Vance tampil di podcast Joe Rogan,” ujar Culhane. “Rogan adalah salah satu podcaster paling populer di negara ini dan memiliki pengaruh besar terhadap kelompok pria muda yang menjadi bagian penting dari basis MAGA.”

Kampanye Pengaruh Disebut Bisa Memengaruhi Keputusan Politik

Wakil Presiden AS tersebut juga mengklaim bahwa kampanye pengaruh yang terkait dengan Israel secara spesifik menargetkannya. Hal ini disebabkan oleh upayanya dalam melakukan pendekatan diplomatik dengan Iran.

“Orang-orang menyerang saya dengan sangat keras hanya karena saya benar-benar berusaha mencapai tujuan negosiasi yang telah ditetapkan presiden untuk negara ini,” kata Vance.

Vance mengakui bahwa baik negara sekutu maupun lawan Amerika Serikat memang kerap berusaha memengaruhi kebijakan Washington.

“Saya tidak mempermasalahkan Israel yang mencoba melakukan hal itu,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan, yang menjadi masalah baginya adalah ketika operasi tersebut, kampanye pengaruh tersebut, benar-benar memengaruhi penilaian politik Amerika.

Vance kembali menyinggung kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran yang dicapai bulan lalu. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk mengakhiri perang, namun mendapat penolakan keras dari Israel.

Kesepakatan tersebut tampaknya mulai mengalami kemunduran setelah meningkatnya serangan antara AS dan Iran dalam sepekan terakhir.

Ketika ditanya apakah menurutnya AS akan tetap terlibat dalam perang terbaru dengan Iran jika bukan karena pengaruh Israel, Vance membenarkannya.

“Ya, ya, saya pikir begitu. Saya pikir presiden, terlepas dari pengaruh apa pun dari Israel, sangat yakin dan saya juga setuju dengan hal ini, bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” kata Vance.

Sebelumnya, Vance juga pernah mengecam para pengkritik kesepakatan dengan Iran dari pihak Israel. Pada Juni lalu, ia menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump adalah satu-satunya sekutu Israel, dalam sebuah kritik tajam yang juga menyinggung miliaran dolar bantuan militer AS kepada negara tersebut.

Mantan Diplomat Israel Sebut Pernyataan Vance “Mengejutkan”

Mantan diplomat Israel, Alon Pinkas, menyebut pernyataan terbaru Vance sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa AS dan Israel saat ini tidak berada dalam posisi yang sama.

“Tidak pernah ada wakil presiden AS yang sedang menjabat menuduh Israel secara terbuka menjalankan kampanye untuk melemahkan kebijakan Amerika. Di masa lalu memang pernah ada perbedaan pendapat dan ketegangan. Namun, seorang wakil presiden yang sedang menjabat keluar secara terbuka, sangat keras, jelas, dan langsung menentang kampanye pengaruh Israel terhadap AS adalah sesuatu yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Ini cukup mengejutkan,” kata Pinkas.

Dalam kesempatan berbeda, Vance turut menanggapi kontroversi terkait mendiang Jeffrey Epstein, terpidana kasus kejahatan seksual. Ia menyebut bahwa Epstein memiliki hubungan tingkat tinggi yang tidak dijelaskan secara rinci dengan badan intelijen AS dan Israel.

Pemerintah Israel hingga kini belum memberikan komentar langsung terkait pernyataan Vance tersebut.