KabarDermayu.com – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengimbau masyarakat, khususnya wisatawan, untuk menunda rencana pendakian ke puncak Gunung Merapi. Imbauan ini dikeluarkan mengingat status Gunung Merapi yang masih berada pada Level III atau Siaga.
Sri Sultan HB X secara tegas meminta para pendatang yang hendak berwisata untuk tidak naik ke puncak Merapi. Pernyataan ini disampaikan di Yogyakarta pada Kamis, 2 Juli 2026.
Alasan utama di balik imbauan ini adalah aktivitas Gunung Merapi yang masih meningkat. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman, DIY, dengan Jawa Tengah ini baru saja mengalami erupsi dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Sri Sultan, masyarakat yang tinggal di lereng Merapi sudah sangat memahami karakteristik gunung tersebut. Mereka telah terbiasa dan mampu mengantisipasi potensi bahaya yang timbul akibat peningkatan aktivitas vulkanik.
Namun, bagi wisatawan atau pendatang, situasi ini bisa berbeda. Sri Sultan menekankan bahwa orang luar belum tentu mengetahui adanya aktivitas Merapi. Oleh karena itu, ia berpesan agar mereka berhati-hati dan sementara waktu menunda pendakian.
Beliau menegaskan bahwa sumber informasi paling akurat mengenai perkembangan aktivitas Gunung Merapi adalah Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Masyarakat diminta untuk selalu mengikuti rekomendasi yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut.
“Yang lebih tahu itu BPPTKG. Dan memang sebetulnya kalau masyarakat sekitar Merapi itu paham (situasi Merapi), ya kan,” ujar Sri Sultan.
Lebih lanjut, Sri Sultan menjelaskan bahwa masyarakat lereng Merapi juga memiliki pemahaman mendalam mengenai kapan waktu yang aman untuk beraktivitas. Mereka juga mengetahui batas jangkauan guguran lava maupun awan panas saat erupsi terjadi.
Bahkan, masyarakat lokal tidak terburu-buru mengungsi karena seringkali guguran dan awan panas hanya mengalir sejauh dua hingga dua setengah kilometer dari puncak. Jarak ini dianggap belum sampai ke permukiman mereka, sehingga mereka merasa relatif aman. “Mereka (masyarakat) sudah tahu sebetulnya,” pungkasnya.





