Netanyahu Diam-diam ke UEA Saat Perang Iran, Diduga Operasi Rahasia Israel

oleh -6 Dilihat
Netanyahu Diam-diam ke UEA Saat Perang Iran, Diduga Operasi Rahasia Israel

KabarDermayu.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim telah melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah akibat perang dengan Iran. Pengakuan ini sontak menarik perhatian dunia internasional, mengingat potensi koordinasi keamanan dan kerja sama strategis antara Israel dan negara-negara Teluk.

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh pemerintah UEA yang menyatakan bahwa laporan mengenai kunjungan Netanyahu tidak berdasar. Perbedaan pernyataan ini justru semakin memicu spekulasi mengenai hubungan tersembunyi antara Israel dan sejumlah negara Arab di balik konflik dengan Iran.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantor Perdana Menteri Israel pada Rabu malam waktu setempat, disebutkan bahwa Netanyahu bertemu secara tertutup dengan Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Pertemuan ini dilaporkan berlangsung di kota Al Ain pada tanggal 26 Maret.

“Pertemuan ini menghasilkan terobosan bersejarah dalam hubungan Israel dan UEA,” demikian kutipan pernyataan kantor Netanyahu yang dilansir Reuters. Kota Al Ain, yang berlokasi dekat perbatasan Oman, diduga dipilih untuk menjaga kerahasiaan agenda pertemuan di tengah situasi perang yang semakin berbahaya.

Laporan Reuters juga mengindikasikan bahwa Kepala Mossad, David Barnea, telah beberapa kali melakukan perjalanan ke UEA selama periode perang. Kunjungan ini diyakini bertujuan untuk membahas koordinasi keamanan dan operasi militer yang berkaitan dengan konflik Iran.

Kedekatan antara Israel dan UEA memang semakin terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, pernah mengungkapkan bahwa Israel sempat berbagi sistem pertahanan udara Iron Dome dengan UEA selama perang berlangsung.

“Ada hubungan yang luar biasa dekat antara UEA dan Israel,” ujar Huckabee. Tak hanya itu, laporan dari media internasional juga menyebutkan dugaan keterlibatan UEA dalam serangan terhadap target-target Iran. Salah satunya adalah serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April, yang disebut sebagai balasan atas serangan Iran terhadap fasilitas minyak milik UEA.

Arab Saudi juga dikabarkan turut melakukan serangan udara balasan terhadap Iran dan kelompok milisi pro-Iran di Irak. Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi kali pertama Riyadh melakukan serangan langsung ke wilayah Iran.

Hubungan Israel dan UEA secara resmi mulai terbuka sejak penandatanganan Abraham Accords pada tahun 2020. Pada saat itu, UEA menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, diikuti oleh Bahrain, Maroko, dan Sudan.

Sejak kesepakatan tersebut, hubungan kedua negara telah berkembang jauh melampaui kerja sama diplomatik biasa. Keduanya kini dianggap memiliki hubungan strategis yang sangat erat, mencakup bidang ekonomi, keamanan, teknologi, hingga pertahanan.

Di tengah meningkatnya kerja sama ini, baik Israel maupun UEA menghadapi tekanan internasional terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan perang. Israel terus menjadi sorotan dunia atas operasi militernya di Gaza, bahkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant.

Sementara itu, UEA dituduh mendukung kelompok Rapid Support Forces di Sudan, yang diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan dan pelanggaran HAM. Pemerintah UEA telah membantah seluruh tuduhan tersebut.

Baca juga: Daftar Pekerjaan Bergaji Tinggi yang Terkena PHK Massal

Situasi ini semakin memperumit dinamika politik di Timur Tengah. Di satu sisi, negara-negara Arab Teluk menunjukkan kedekatan dengan Israel untuk menghadapi ancaman Iran. Namun di sisi lain, hubungan tersebut masih menjadi isu sensitif di mata publik kawasan, yang selama puluhan tahun memandang Israel sebagai musuh utama.