KabarDermayu.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dijadwalkan untuk mengunjungi Roma pekan ini. Kunjungan ini bertujuan untuk meredakan ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dengan pemerintah Italia dan Vatikan.
Rubio dijadwalkan berada di Roma pada Kamis, 7 Mei, dan Jumat, 8 Mei 2026. Sumber dari Kementerian Luar Negeri Italia mengonfirmasi rencana pertemuan Rubio dengan Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, serta Wakil Perdana Menteri yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani.
Melansir dari The Guardian pada Senin, 4 Mei 2026, dalam kunjungan tersebut, Rubio juga telah mengajukan permintaan pertemuan dengan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Namun, hingga kini, belum ada kepastian mengenai apakah permintaan tersebut akan dikabulkan.
Menurut laporan harian Italia, Corriere della Sera, rencana kunjungan ini disampaikan melalui sebuah surat dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Roma, Tilman Fertitta. Dalam beberapa pekan terakhir, Fertitta dilaporkan berupaya membangun kembali hubungan antara kedua negara. Upaya ini dilakukan setelah ketegangan meningkat akibat pernyataan keras Presiden Donald Trump terhadap Paus Leo.
Ketegangan tersebut muncul setelah Paus Leo mengecam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Hal ini kemudian memicu memburuknya hubungan antara Washington dan Roma. Bahkan, Trump sempat mengkritik Meloni, yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu dekatnya di Eropa, setelah ia menanggapi pernyataan Trump mengenai Paus Leo.
Trump juga menuding pemerintah Italia tidak memberikan dukungan terhadap serangan terhadap Iran. Ia bahkan sempat mengancam akan menarik pasukan Amerika Serikat dari Italia. Media tersebut menyebutkan bahwa kunjungan Rubio bertujuan untuk ‘mencairkan’ hubungan yang sempat dingin dengan Italia dan Vatikan. Namun, upaya ini dinilai tidak mustahil, meskipun cukup rumit.
Selain bertemu dengan Parolin dan Tajani, Rubio dikabarkan juga akan menemui Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto. Meskipun demikian, jadwal resminya belum dikonfirmasi.
Di sisi lain, Pentagon pada Jumat lalu mengumumkan penarikan 5.000 tentara Amerika Serikat dari Jerman. Keputusan ini diambil setelah Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyebut Amerika Serikat dipermalukan oleh Iran. Trump bahkan mengisyaratkan bahwa jumlah penarikan pasukan bisa bertambah. Seorang pejabat tinggi Pentagon menilai pernyataan dari pihak Jerman tidak tepat dan tidak membantu.
Sehari sebelumnya, Trump juga mengancam akan melakukan hal serupa terhadap Italia dan Spanyol. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, sejak awal memang menentang perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Sementara itu, Italia sempat mengambil posisi hati-hati. Hingga akhirnya, pada akhir Maret, Italia menolak penggunaan pangkalan udara di Sisilia oleh pesawat Amerika Serikat yang membawa persenjataan untuk perang tersebut.
Crosetto sendiri mengaku tidak memahami alasan di balik ancaman Trump untuk menarik pasukan dari Italia. Ia juga membantah tudingan bahwa negaranya tidak membantu Amerika Serikat, terutama dalam hal keamanan maritim.
Rubio, bersama Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, sebelumnya menghadiri pelantikan Paus Leo pada Mei tahun lalu. Sehari setelahnya, mereka juga sempat bertemu secara pribadi dengan Paus dan menyerahkan undangan dari Trump untuk berkunjung ke Gedung Putih. Namun, hingga kini, undangan tersebut belum direspons.
Baca juga: Jalan Pintas Artis di Dunia Hiburan: Pengakuan Jessica Iskandar
Menanggapi pernyataan keras Trump pada April lalu, Paus Leo menegaskan bahwa dirinya tidak gentar terhadap pemerintah Amerika Serikat. Ia tetap menyuarakan penolakannya terhadap perang di Iran maupun konflik lainnya.





