Ekonomi RI 2023 vs Krisis 1998: Purbaya Ungkap Perbedaannya

oleh -6 Dilihat
Ekonomi RI 2023 vs Krisis 1998: Purbaya Ungkap Perbedaannya

KabarDermayu.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pelaku pasar. Banyak pihak mulai membandingkan situasi ekonomi saat ini dengan krisis moneter 1998 yang pernah mengguncang perekonomian Indonesia.

Namun, pemerintah memastikan kondisi ekonomi nasional saat ini berada dalam situasi yang sangat berbeda. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah saat ini menjadi pertanda Indonesia akan kembali menuju krisis seperti yang terjadi pada tahun 1998. Ia menilai bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis moneter dua dekade lalu.

“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan ‘instability social-politic’ terjadi setelah setahun kita resesi,” ujar Purbaya di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026.

Purbaya menjelaskan bahwa sebelum krisis moneter 1998 pecah, Indonesia terlebih dahulu mengalami resesi ekonomi yang dimulai sejak pertengahan tahun 1997. Situasi tersebut kemudian diperparah dengan ketidakstabilan sosial dan politik yang akhirnya memicu krisis besar di berbagai sektor.

Menurutnya, kondisi saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda serupa. Perekonomian domestik dinilai masih tumbuh cukup baik, sehingga pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Baca juga: 15 Orang Ditetapkan Tersangka Akibat Kericuhan di Stadion Lukas Enembe Pasca Kekalahan Persipura

Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus fokus memperkuat fondasi ekonomi dan menjaga berbagai indikator makro agar tetap stabil. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan gejolak pasar keuangan tidak berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain menyoroti isu nilai tukar rupiah, Purbaya juga menanggapi pelemahan pasar saham yang terjadi pada perdagangan Senin pagi. Ia menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek dibandingkan persoalan fundamental ekonomi nasional.

Sebagai bentuk intervensi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah mulai masuk ke pasar obligasi dengan volume yang lebih besar. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pasar surat utang negara agar investor asing tidak melakukan aksi jual secara besar-besaran akibat potensi kerugian modal.

Purbaya juga mengimbau investor domestik agar tidak panik menghadapi kondisi pasar saat ini. Ia bahkan menilai koreksi pasar saham dapat menjadi momentum bagi investor untuk melakukan pembelian saham di harga rendah.

“Investor pasar saham, kalau saya bilang, jangan takut serok bawah sekarang. Kalau saya lihat tekniknya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” ujarnya.

Berdasarkan data pasar uang pada Senin pagi, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.