Rugi Ratusan Triliun, Perang AS-Iran Picu Harga Minyak Naik

oleh -7 Dilihat
Rugi Ratusan Triliun, Perang AS-Iran Picu Harga Minyak Naik

KabarDermayu.com – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi perusahaan-perusahaan global, diperkirakan mencapai lebih dari US$25 miliar atau setara dengan Rp440 triliun, dengan asumsi nilai tukar Rp17.600 per dolar AS. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Lebih dari seratus perusahaan yang beroperasi di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia dilaporkan mulai merasakan dampak langsung dari ketegangan di Timur Tengah. Dampak tersebut bermanifestasi dalam berbagai bentuk, termasuk lonjakan biaya energi, gangguan pada rantai pasok global, hingga penurunan permintaan dari konsumen.

Berdasarkan analisis mendalam yang dilakukan oleh Reuters terhadap laporan keuangan perusahaan sejak konflik ini pecah, tercatat setidaknya 279 perusahaan telah mengambil langkah-langkah darurat. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak finansial yang timbul akibat perang.

Langkah-langkah yang diambil perusahaan sangat bervariasi. Beberapa di antaranya memilih untuk menaikkan harga produk mereka, sementara yang lain terpaksa melakukan pemangkasan produksi. Ada pula yang memutuskan untuk menunda atau menghentikan pembagian dividen, serta menunda program pembelian kembali saham.

Selain itu, beberapa perusahaan juga melakukan pengurangan tenaga kerja, menambah biaya operasional untuk bahan bakar, bahkan ada yang secara resmi meminta bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban finansial yang mereka hadapi.

Konflik ini semakin memperparah kondisi ekonomi global yang sebelumnya sudah berjuang keras akibat dampak pandemi COVID-19 dan perang antara Rusia dan Ukraina.

Marc Bitzer, CEO Whirlpool, mengungkapkan bahwa perlambatan industri yang terjadi saat ini memiliki skala yang mirip dengan krisis keuangan global. Ia bahkan menyebutkan bahwa tingkat penurunan industri ini bisa lebih parah dibandingkan beberapa periode resesi lainnya yang pernah terjadi.

Bitzer menjelaskan bahwa konsumen kini cenderung menahan diri untuk membeli produk baru. Alih-alih mengganti barang yang sudah usang, mereka lebih memilih untuk melakukan perbaikan pada barang-barang lama yang masih bisa digunakan.

Salah satu dampak paling krusial dari eskalasi konflik di Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak dunia. Keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah melonjak tajam, menembus angka US$100 per barel, yang berarti kenaikan lebih dari 50 persen dibandingkan dengan harga sebelum konflik.

Situasi ini secara langsung memicu lonjakan biaya pengiriman barang secara global. Selain itu, pasokan bahan baku industri menjadi terganggu, dan jalur perdagangan internasional mengalami pemutusan. Pasokan berbagai komoditas penting seperti pupuk, helium, aluminium, polyethylene, dan beragam bahan baku industri lainnya juga tidak luput dari dampak negatif ini.

Baca juga: Tiga Terdakwa Suap DJKA Dituntut 6 Tahun Penjara

Beberapa perusahaan multinasional terkemuka, termasuk Procter & Gamble, Toyota, dan produsen kondom terbesar di Malaysia, Karex, telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi dampak finansial yang semakin besar akibat perang ini.

Sektor penerbangan menjadi salah satu industri yang paling terpukul. Perusahaan-perusahaan di sektor ini menghadapi tambahan biaya operasional yang diperkirakan mencapai hampir US$15 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan harga avtur yang hampir berlipat ganda.

Toyota sendiri memperkirakan bahwa perang yang melibatkan Iran ini dapat merugikan perusahaan hingga US$4,3 miliar. Sementara itu, Procter & Gamble memperkirakan laba setelah pajaknya akan tertekan sekitar US$1 miliar.

Raksasa makanan cepat saji, McDonald’s, juga telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi kenaikan inflasi biaya dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada rantai pasok global.

Chris Kempczinski, CEO McDonald’s, menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar yang tinggi mulai berdampak negatif pada daya beli masyarakat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Ia menyoroti bahwa harga bensin yang tinggi menjadi salah satu masalah utama yang mereka hadapi saat ini.

Sekitar 40 perusahaan yang bergerak di sektor industri, kimia, dan material juga mengindikasikan bahwa mereka akan menaikkan harga produk mereka. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kenaikan biaya bahan baku petrokimia yang berasal dari Timur Tengah.

Continental, produsen ban terkemuka asal Jerman, memperkirakan kerugian setidaknya mencapai 100 juta euro. Kerugian ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak yang secara signifikan meningkatkan biaya bahan baku produksi ban mereka.

Roland Welzbacher, seorang eksekutif di Continental, memperingatkan bahwa dampak penuh dari konflik ini kemungkinan baru akan dirasakan secara signifikan pada paruh kedua tahun ini. Ia memprediksi bahwa dampaknya akan mulai terasa pada akhir kuartal kedua dan akan sepenuhnya muncul pada semester kedua.

Meskipun demikian, sejumlah analis berpendapat bahwa dampak sebenarnya terhadap laba perusahaan belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan yang diterbitkan saat ini. Masih ada potensi kerugian yang lebih besar yang belum terungkap sepenuhnya.