KabarDermayu.com – Mantan Menteri Pertahanan dan mantan Direktur CIA Amerika Serikat, Robert Gates, mengungkapkan ketidaksepakatannya terhadap pandangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran.
Pada tahun 2009, Netanyahu meyakini bahwa rezim Iran akan runtuh jika menghadapi serangan militer. Namun, Gates memiliki pandangan yang berbeda dan secara tegas menolak penilaian tersebut.
Dalam sebuah program di CBS pada Minggu, 17 Mei, Gates menceritakan perdebatan dengan Netanyahu mengenai potensi dampak serangan militer ke Iran. Gates merasa Netanyahu meremehkan ketahanan rakyat dan pemerintah Iran.
Ia berpendapat bahwa keberhasilan operasi militer Israel di masa lalu, seperti serangan terhadap reaktor nuklir Osirak di Irak pada 1981 dan fasilitas nuklir Suriah pada 2007, mungkin telah menciptakan kepercayaan diri yang berlebihan di pihak Israel.
Baca juga: Timnas Voli Putra Indonesia: Persiapan AVC Nations Cup, SEA V League 2026, 3 Debutan
Gates menilai keberhasilan tersebut bisa saja membentuk asumsi yang keliru mengenai bagaimana Iran akan bereaksi terhadap tekanan militer.
Pernyataan Gates ini muncul di tengah sorotan terhadap dua gelombang serangan besar yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Laporan menyebutkan bahwa serangan-serangan tersebut dinilai gagal melumpuhkan pemerintahan Iran.
Hal ini disebabkan oleh cepatnya penggantian pejabat yang menjadi target, kemampuan Iran untuk melancarkan serangan balasan, serta pemulihan infrastruktur pertahanannya.
Gelombang serangan pertama pada Juni tahun lalu dilaporkan memicu serangan balasan signifikan dari militer Iran terhadap target-target strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Situasi tersebut bahkan diklaim membuat Israel meminta Amerika Serikat untuk mendorong gencatan senjata hanya dalam kurun waktu 12 hari.
Sementara itu, gelombang serangan terbaru yang berlangsung dari 28 Februari hingga 7 April dilaporkan mengalami nasib serupa.
Selain itu, Iran juga menerapkan kontrol ketat di Selat Hormuz, yang memberikan dampak besar pada pasar energi global.
Sejumlah pejabat dan pakar di Amerika Serikat mulai mempertanyakan keputusan Washington yang dinilai terlalu mengikuti tekanan Israel untuk terlibat dalam gelombang serangan terbaru tersebut.
Hal ini terutama mengingat dampak besar yang ditimbulkan oleh serangan-serangan tersebut pada pasar energi global.





