Spesifikasi Rudal Tomahawk AS yang Disita Iran, CIA Khawatir Kekuatan Teheran Belum Lenyap

oleh -7 Dilihat
Spesifikasi Rudal Tomahawk AS yang Disita Iran, CIA Khawatir Kekuatan Teheran Belum Lenyap

KabarDermayu.com – Perkembangan terbaru dalam konflik yang memanas di Timur Tengah telah menarik perhatian dunia. Iran dilaporkan tengah mempelajari teknologi rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat, yang ditemukan dalam kondisi utuh setelah gagal meledak saat digunakan dalam serangan terhadap Iran.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh kantor berita Iran, Mehr. Disebutkan bahwa beberapa rudal Tomahawk berhasil ditemukan dalam kondisi relatif utuh, baik karena ditembak jatuh maupun mengalami kegagalan sistem peledak. Bagi Iran, rudal-rudal ini bukan sekadar puing perang, melainkan sumber berharga untuk mempelajari teknologi militer canggih.

Mehr melaporkan bahwa Iran telah mengalihkan strateginya untuk memperoleh pengetahuan dari medan perang. Setiap rudal Tomahawk yang mendarat dan tidak meledak dianggap sebagai “buku teks tingkat lanjut” bagi para insinyur Iran. Meskipun laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen, kemampuan Iran dalam merekayasa balik teknologi Barat bukanlah hal baru.

Selama bertahun-tahun menghadapi embargo dan sanksi internasional, Iran dikenal aktif dalam upaya reverse engineering berbagai sistem persenjataan asing. Bahkan, Pakistan pernah dituding mengembangkan rudal jelajah Babur dari serpihan Tomahawk yang ditemukan pasca serangan AS ke Afghanistan pada tahun 1998.

Kekhawatiran Washington tidak hanya terbatas pada potensi Iran mempelajari teknologi rudal. Sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat justru menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran belum sepenuhnya lumpuh seperti yang diklaim oleh Presiden AS Donald Trump sebelumnya. Laporan yang dikutip oleh New York Times mengungkapkan bahwa Teheran telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 situs rudal di sepanjang Selat Hormuz.

Selain itu, Iran dilaporkan masih mempertahankan sekitar 70 persen peluncur rudal bergerak mereka, serta sebagian besar fasilitas penyimpanan misil bawah tanah. Infrastruktur militer bawah tanah Iran memang dikenal sebagai salah satu sistem pertahanan yang paling sulit dihancurkan di Timur Tengah.

Para analis militer Barat menilai bahwa jaringan bunker dan terowongan bawah tanah Iran menjadi alasan utama stok rudal mereka tetap bertahan meskipun telah digempur selama berminggu-minggu. Media-media Iran juga mengklaim bahwa kemampuan perang elektronik mereka berhasil mengganggu sistem peledak beberapa rudal Tomahawk, sehingga gagal meledak sempurna. Klaim ini belum dikonfirmasi oleh Pentagon, namun menjadi perhatian serius karena menyangkut efektivitas sistem senjata andalan militer AS.

Baca juga: Acosta Raih Pole MotoGP Catalunya 2026, Martin dan Bezzecchi Alami Nasib Buruk Akibat Kecelakaan

Rudal Tomahawk sendiri merupakan misil jelajah jarak jauh buatan Amerika Serikat yang telah menjadi tulang punggung operasi serangan presisi AS selama puluhan tahun. Senjata ini pertama kali dikembangkan pada era 1970-an dan kini diproduksi oleh Raytheon Technologies.

Tomahawk dikenal memiliki kemampuan terbang rendah untuk menghindari deteksi radar, sekaligus mampu menghantam target dengan tingkat akurasi tinggi. Berikut adalah spesifikasi utama dari Rudal Tomahawk:

  • Panjangnya berkisar antara 5,5 hingga 6,2 meter.
  • Bobot peluncurannya mencapai 1,3 hingga 1,6 ton.
  • Kecepatannya sekitar Mach 0,74, atau hampir 900 kilometer per jam.
  • Jangkauan maksimalnya dapat mencapai 2.500 kilometer, tergantung varian.
  • Mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.
  • Menggunakan sistem navigasi gabungan seperti GPS, TERCOM (Terrain Contour Matching), DSMAC (Digital Scene Matching Area Correlator), dan INS (Inertial Navigation System).
  • Dapat diluncurkan dari kapal perang maupun kapal selam.

Rudal ini telah mengalami beberapa generasi pengembangan. Varian terbaru, Block IV dan Block V, memiliki kemampuan untuk menerima pembaruan target saat sedang terbang, bahkan dapat mengirimkan data visual ke pusat komando sebelum menghantam sasaran. Keunggulan inilah yang membuat rudal ini sering digunakan dalam operasi militer besar AS, mulai dari Perang Teluk, invasi Irak, hingga operasi di Suriah dan fasilitas strategis Iran.

Namun, Tomahawk memiliki keterbatasan. Rudal ini dinilai kurang efektif untuk menghancurkan bunker bawah tanah yang sangat kuat, seperti fasilitas nuklir Fordow di Iran. Oleh karena itu, militer AS biasanya mengombinasikan Tomahawk dengan bom penghancur bunker seperti GBU-57.

Pengamat Timur Tengah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Khalid Al Walid, menilai bahwa Iran saat ini sedang dalam fase membangun kembali kekuatan militernya dengan sangat cepat. “Kita mendengar bahwa Iran telah membangun kembali seluruh persenjataan yang mereka miliki dan bahkan telah menguji cobakan beberapa rudal-rudal baru,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Iran memiliki sejumlah sistem senjata yang belum sepenuhnya dipublikasikan ke dunia internasional, termasuk teknologi pertahanan udara baru yang dikabarkan mampu mendeteksi pesawat siluman. Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah masih berada dalam ketegangan tinggi, meskipun gencatan senjata resmi telah diberlakukan. Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rawan karena jalur tersebut merupakan jalur distribusi minyak dunia yang vital.