KabarDermayu.com – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tidak meminta konsesi apa pun dari Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada hari Jumat, di mana Iran secara tegas menyatakan hanya menginginkan pemulihan hak-haknya dan pencabutan sanksi yang telah diberlakukan.
“Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat, kami hanya menuntut hak-hak kami,” ujar Esmaeil Baghaei, seperti dikutip dari Tasnim pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Baghaei menambahkan bahwa Iran menuntut penghentian tindakan yang dianggapnya sebagai kriminalitas Amerika terhadap rakyat Iran. Ia merujuk pada sanksi yang harus dicabut, serta pembebasan aset Iran yang telah dibekukan agar dapat diakses kembali oleh negara.
Selama lebih dari lima dekade, Baghaei menegaskan bahwa pemerintah Iran telah menghadapi apa yang disebut Amerika Serikat sebagai ‘sanksi yang melumpuhkan’. Sanksi-sanksi ini, menurutnya, dijatuhkan dengan berbagai alasan, terutama terkait isu nuklir Iran yang diklaim Washington sebagai ancaman.
Namun, Baghaei dengan tegas membantah tuduhan tersebut. “Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap pihak mana pun di kawasan maupun dunia,” tegasnya.
Lebih lanjut, Baghaei menyoroti perkembangan terkait Selat Hormuz. Ia mengkritik keras blokade angkatan laut Amerika Serikat di wilayah tersebut, menyebutnya sebagai tindakan yang “sepenuhnya bertentangan dengan hukum internasional.” Iran mendesak Washington untuk mengambil langkah-langkah konkret guna mengakhiri blokade tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang dilaporkan tetap tinggi. Situasi memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Sebagai respons, Teheran membalas dengan serangan ke Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, yang juga berujung pada penutupan Selat Hormuz.
Baca juga: Tsunami Uni Eropa: Kesiapan Hadapi Ancaman Bencana
Gencatan senjata akhirnya mulai berlaku pada 8 April, yang dimediasi oleh Pakistan. Namun, pembicaraan yang digelar di Islamabad gagal mencapai kesepakatan jangka panjang. Presiden AS, Donald Trump, kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu. Meskipun demikian, blokade terhadap kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran melalui jalur perairan strategis tersebut tetap dipertahankan.





