La Ode Deklarasi Kepemimpinan Maju jadi Calon Ketua Umum Kosgoro 1957

oleh -6 Dilihat
La Ode Deklarasi Kepemimpinan Maju jadi Calon Ketua Umum Kosgoro 1957

KabarDermayu.com – La Ode Safiul Akbar secara resmi menyatakan bakal maju sebagai bakal calon ketua umum Pimpinan Pusat PPK Kosgoro 1957. Ia bertekad mengembalikan Kosgoro 1957 menjadi Organisasi Karya yang sejalan dengan tujuan awal berdirinya serta nilai‑nilai luhur yang diwariskan para pendirinya, yaitu mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang bermanfaat bagi bangsa.

Menurut La Ode, kemerdekaan bukan sekadar hasil perjuangan, melainkan harus dipenuhi dengan aksi nyata yang mampu meninggikan kesejahteraan rakyat, menjunjung prinsip pengabdian, kerakyatan, dan solidaritas.

“Sebab akar itulah yang memberi kekuatan sekaligus menyuburkan pohon organisasi sehingga dapat menghasilkan manfaat bagi anggota dan ekosistemnya,”

Ujar La Ode dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 24 Mei 2026.

Baca juga: Profesi Pelatih Robot Jadi Tren Baru di China, Tugasnya Mengajari Bikin Kopi hingga Masak

Ia merinci tantangan yang harus dihadapi, antara lain kompetisi global yang semakin ketat, disrupsi teknologi yang cepat, ketimpangan ekonomi yang masih terasa, krisis kaderisasi di kalangan generasi muda, serta perubahan sosial yang berlangsung sangat dinamis. Tantangan‑tantangan itu, kata dia, memerlukan pengelolaan sumber daya manusia dan alam secara bijaksana.

La Ode menilai hal tersebut sangat relevan untuk dikelola oleh Kosgoro 1957, yang tujuan dasarnya adalah mengelola negara yang baru merdeka agar mampu mengatasi berbagai tantangan republik.

“Di tengah ketidakpastian ekonomi, kita harus memberdayakan organisasi untuk menciptakan solusi. Dan di tengah kompleksitas tantangan bangsa, kita perlu membentuk kader‑kader yang serbaguna, adaptif, berintegritas, dan kompeten,” kata La Ode.

La Ode membawa visi untuk tidak sekadar melontarkan janji, melainkan mengakarkan kembali nilai‑nilai perjuangan Kosgoro 1957 sebagai penggerak pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan lokomotif kebangkitan karya di tubuh Golkar.

Visi tersebut ia bagi menjadi tiga pilar utama. Pilar pertama, mengembalikan masa lalu sebagai fondasi: Kosgoro 1957 harus menjadi sekolah karakter yang menyemaikan falsafah dasar organisasinya. Nilai‑nilai itu harus hidup dalam budaya organisasi, disiplin, kesetiaan pada bangsa, keberanian berinovasi, dan keberpihakan pada rakyat, bukan sekadar dikenang dalam seremoni.

Pilar kedua, mengelola masa kini dengan solusi nyata: Kosgoro 1957 harus hadir di tengah persoalan bangsa, menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM, penguatan koperasi modern, literasi digital ekonomi, serta penciptaan ekosistem usaha yang berpihak pada rakyat kecil.

Ia menegaskan, Kosgoro 1957 tak boleh hanya hidup di ruang rapat, melainkan harus terasa di pasar‑pasar rakyat, di sentra usaha, di desa‑desa produktif, dan di ruang‑ruang inovasi anak muda Indonesia.

Pilar ketiga, menyiapkan masa depan melalui kaderisasi unggul: Kepemimpinan saat ini tidak boleh hanya sibuk dengan hari ini, melainkan harus mampu mencetak pemimpin untuk hari esok. Kosgoro 1957 harus mencetak kader‑kader yang memiliki tiga kualitas utama: kapasitas intelektual, integritas moral, dan kompetensi profesional.

La Ode menekankan, Kosgoro 1957 tidak boleh hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi harus hadir dalam kehidupan nyata. Organisasi ini harus menjadi rumah besar karya, tempat lahir dan bertumbuhnya kader yang berpikiran besar, bekerja nyata, dan berjuang untuk Indonesia.

“Kosgoro 1957 harus menjadi solusi bagi setiap tantangan dan memenangkan masa depan dengan menjaga akar sejarahnya, membaca zaman yang terus berubah, serta menyiapkan generasi penerusnya,” tutup La Ode.