Trump Sebut Kesepakatan Iran Bisa Buka Lagi Selat Hormuz

oleh -5 Dilihat
Trump Sebut Kesepakatan Iran Bisa Buka Lagi Selat Hormuz

KabarDermayu.com – Presiden Donald Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat, yang sebagian besar telah dirundingkan, akan membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan ini memunculkan harapan bahwa konflik yang telah berlangsung sejak Februari lalu dapat segera mencapai titik perdamaian.

Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memungkinkan pembukaan kembali jalur pelayaran krusial tersebut, meskipun ia tidak merinci lebih lanjut mengenai isi kesepakatan damai itu. Ia menulis di platform Truth Social miliknya bahwa aspek dan rincian akhir kesepakatan masih dalam pembahasan dan akan segera diumumkan. Pernyataan ini dikutip dari laman CNA News pada Minggu, 24 Mei 2026.

Sejumlah media di Amerika Serikat dan Iran melaporkan bahwa kesepakatan ini akan menjadi kerangka kerja untuk mengakhiri konflik berbulan-bulan. Kesepakatan ini juga diharapkan mencakup pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelayaran Iran. Selain itu, jalur laut yang sebelumnya sempat ditutup oleh Iran, dengan ancaman serangan terhadap kapal yang melintas, juga akan dibuka kembali.

Laporan lebih lanjut menyebutkan bahwa pembahasan mengenai stok uranium yang diperkaya milik Iran, yang selama ini diminta oleh Washington untuk dihentikan, akan menjadi agenda negosiasi dalam kurun waktu 30 hingga 60 hari ke depan.

Harapan Meredanya Krisis Energi Global

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang sedang melakukan kunjungan ke India, menyatakan bahwa perkembangan baru terkait Iran kemungkinan akan muncul pada Minggu waktu Amerika Serikat. Pernyataan ini memberikan sinyal positif mengenai kemajuan dalam negosiasi.

Seorang sumber senior dari Iran menginformasikan kepada Reuters bahwa jika Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyetujui nota kesepahaman tersebut, dokumen itu akan diteruskan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, untuk mendapatkan persetujuan akhir. Proses ini menunjukkan adanya langkah-langkah formal yang harus dilalui.

Namun, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan mengenai satu atau dua klausul dalam kesepakatan tersebut. Tasnim mengutip sumber yang menyatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan final jika Amerika Serikat terus menciptakan hambatan dalam proses negosiasi.

Baca juga: Mauricio Souza Ungkap 2 Biang Kerok Kegagalan Juara Persija Super League

Kesepakatan yang diharapkan dapat memperkuat gencatan senjata yang saat ini masih rapuh ini diperkirakan akan memberikan kelegaan bagi pasar global. Meskipun demikian, kesepakatan ini belum tentu secara langsung mengakhiri krisis energi dunia yang telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar, pupuk, dan pangan.

Harga minyak mentah Brent saat ini dilaporkan berada di kisaran 103,50 dolar AS per barel. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 43 persen dibandingkan dengan harga saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu.

Kepala Abu Dhabi National Oil Company pada pekan lalu bahkan mengungkapkan bahwa meskipun perang berakhir sekarang, arus pelayaran normal di Selat Hormuz diperkirakan baru akan pulih sepenuhnya pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pasokan energi global akan membutuhkan waktu.

Media AS Axios, mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan pada Sabtu malam waktu setempat bahwa dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selain itu, sanksi terhadap minyak Iran juga akan dilonggarkan sebagian.

Draf kesepakatan tersebut juga disebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Komitmen ini menjadi salah satu poin krusial dalam negosiasi antara kedua negara.

Presiden Trump sendiri berulang kali menegaskan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran dilakukan dengan tujuan mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. Pernyataan ini menjadi dasar dari kebijakan luar negeri AS terhadap Iran.

Iran selama ini selalu membantah sedang mengembangkan senjata nuklir. Teheran menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk memperkaya uranium demi kepentingan sipil. Meskipun demikian, tingkat kemurnian uranium yang dicapai Iran disebut jauh melampaui kebutuhan untuk pembangkit listrik.