Harga Emas Anjlok: Investor Tinggalkan Aset Safe Haven?

oleh -7 Dilihat
Harga Emas Anjlok: Investor Tinggalkan Aset Safe Haven?

KabarDermayu.com – Harga emas global dilaporkan mengalami penurunan signifikan, menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai daya tarik logam mulia sebagai aset *safe haven* di tengah membaiknya sentimen pasar terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga emas ini terjadi seiring dengan pergeseran investor yang mulai mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral global juga menjadi faktor pemberat pergerakan logam mulia tersebut.

Dalam perdagangan terbaru, harga emas dunia tercatat turun lebih dari 1 persen. Penurunan ini mengikuti aksi jual besar yang terjadi sehari sebelumnya, membawa harga emas ke level terendah sejak akhir Maret 2026.

Secara historis, harga emas cenderung bergerak searah dengan sentimen risiko pasar selama periode konflik geopolitik. Namun, kondisi pekan ini menunjukkan pola yang berbeda.

“Untuk sebagian besar konflik ini, emas cenderung bergerak seiring dengan irama aset berisiko. Namun sejauh pekan ini, kondisinya justru berbeda. Ketika pasar global mulai lebih optimistis terhadap situasi AS-Iran, emas dan perak justru kesulitan bertahan,” demikian kutipan dari Investing Live, Kamis, 28 Mei 2026.

Saat ini, harga emas berada di bawah US$252 atau setara dengan sekitar Rp4,43 juta per troy ounce, dengan asumsi kurs Rp17.600 per dolar AS. Angka ini merupakan level terendah yang dicapai sejak 30 Maret 2026.

Berdasarkan analisis teknikal, upaya pantulan harga emas pada awal Mei tidak berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari. Pasar kini mengamati potensi penurunan lebih lanjut menuju area rata-rata pergerakan 200 hari.

“Level teknikal penting terlihat di US$249 atau sekitar Rp4,38 juta per troy ounce dan akan menjadi titik utama yang perlu diwaspadai. Terutama karena level itu sempat menahan penurunan tajam selama Maret,” tulis analisis tersebut.

Baca juga: Analis: China Incar Konflik yang Menguntungkan, Bukan Perdamaian Total

Jika level US$249 berhasil ditembus, tekanan jual diperkirakan akan semakin meningkat dalam beberapa pekan mendatang.

Selain faktor geopolitik, perubahan arah kebijakan suku bunga global juga diidentifikasi sebagai penyebab utama pelemahan harga emas. Selama hampir dua tahun terakhir, emas menjadi salah satu aset pilihan utama ketika banyak bank sentral global melakukan pemangkasan suku bunga.

Namun, situasi saat ini menunjukkan perubahan. Investor mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak inflasi global yang masih tinggi, terutama setelah konflik geopolitik dan gejolak pasar obligasi dalam beberapa pekan terakhir.

“Prospek inflasi global saat ini berada dalam posisi yang cukup rapuh. Dan kita melihat ekspektasi bank sentral mencerminkan kondisi tersebut, terutama setelah gejolak pasar obligasi dalam dua pekan terakhir.”

Pasar kini mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), hingga sekitar 15 basis poin pada akhir tahun. Perkiraan ini berbeda signifikan dengan bulan sebelumnya, di mana pelaku pasar masih memprediksi The Fed akan menahan suku bunga tanpa perubahan.

Kondisi ini mendorong investor untuk mulai meninggalkan emas dan kembali berinvestasi pada instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah dan deposito berbunga tinggi.

“Ketika semakin banyak bank sentral besar cenderung memperketat kebijakan untuk merespons kekhawatiran inflasi, suku bunga yang lebih tinggi menjadi kabar buruk bagi emas karena investor kembali beralih ke aset tradisional dengan imbal hasil tinggi.”

Meskipun demikian, para analis berpendapat bahwa faktor suku bunga bukanlah satu-satunya penyebab pelemahan harga emas saat ini. Ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan bank sentral, serta perkembangan geopolitik masih akan menjadi faktor penentu utama pergerakan logam mulia dalam beberapa bulan ke depan.