KabarDermayu.com – Menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang berpotensi diperparah oleh fenomena El Nino, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendesak pemerintah untuk segera memperkuat cadangan pangan nasional secara menyeluruh. Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat dan menjaga stabilitas harga.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menekankan bahwa pemerintah tidak boleh hanya berpuas diri dengan stok beras yang saat ini relatif kuat. Ia menegaskan perlunya mitigasi yang lebih dini dan komprehensif, mencakup sektor produksi, distribusi, dan tentu saja, cadangan pangan.
Sektor produksi pangan menjadi perhatian utama Indef. Pemerintah perlu mengidentifikasi daerah-daerah produksi yang paling rentan terhadap kekeringan akibat kemarau dan El Nino. Langkah konkret seperti percepatan perbaikan irigasi, penyediaan pompa air, pemanfaatan embung, serta penyesuaian kalender tanam diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif pada hasil panen.
Rizal menambahkan bahwa pendekatan penanganan masalah pangan seharusnya tidak lagi reaktif, yaitu baru bertindak setelah produksi menurun drastis dan harga melonjak. Sebaliknya, pemerintah harus menerapkan sistem peringatan dini yang terintegrasi. Sistem ini melibatkan koordinasi erat antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Pusat Statistik (BPS), Perum Bulog, serta pemerintah daerah.
Selain komoditas beras, Indef juga menyoroti pentingnya menjaga ketersediaan komoditas strategis lainnya. Komoditas seperti jagung, gula, kedelai, bawang, telur, daging ayam, dan daging sapi harus memiliki batas minimum stok operasional yang jelas, serta sebaran yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Penyerapan hasil panen saat musim raya, penguatan infrastruktur gudang dan cold storage, serta percepatan distribusi antardaerah juga perlu menjadi prioritas.
Mengenai impor, Rizal menyarankan agar kebijakan ini hanya dijadikan instrumen terakhir. Jika terpaksa dilakukan, impor harus dilakukan secara terukur dan memiliki batasan waktu yang jelas agar tidak merusak harga gabah petani dan stabilitas pasar domestik.
Menurut Indef, kunci ketahanan pangan bukan semata-mata terletak pada besarnya stok nasional. Lebih penting lagi adalah kemampuan pemerintah untuk memastikan pasokan pangan selalu tersedia, terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, dan dapat sampai tepat waktu ke daerah-daerah yang mengalami defisit.
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, telah menyatakan kesiapannya dalam menghadapi El Nino. Ia memastikan bahwa cadangan pangan selain beras, seperti komoditas pokok strategis lainnya, telah diperkuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau. Pengalaman pada tahun 2023 yang berhasil dilalui tanpa kendala besar menjadi bekal penting bagi pemerintah.
Berdasarkan data Bapanas per 8 Juli, stok cadangan pangan Pemerintah dalam bentuk beras di Perum Bulog tercatat sebanyak 5,2 juta ton. Sementara itu, cadangan pangan di tingkat daerah provinsi pada akhir Juni lalu mencapai 7,34 ribu ton, dan di tingkat kabupaten/kota terdapat 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.
Untuk komoditas jagung pakan, stok per 8 Juli masih tersisa 188 ribu ton dan disalurkan kepada peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga yang lebih terjangkau. Cadangan minyak goreng tercatat sebanyak 1,1 ribu kiloliter dan gula konsumsi sekitar 2,79 ribu ton, yang dikelola oleh Bulog dan ID Food. Cadangan daging ayam juga dilaporkan masih ada sebanyak 38 ton di ID Food.
Di sisi lain, kampanye “Makan Dengan Makna” yang digagas oleh TikTok menjadi salah satu upaya untuk memperkuat sektor pangan lokal dan gizi masyarakat Indonesia. Kampanye ini bertujuan untuk mendorong masyarakat menerapkan pola makan dan hidup yang lebih sehat, sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan.





