Karyawan Takut AI: Gangguan Mental Akibat Fenomena Baru Dunia Kerja

oleh -6 Dilihat
Karyawan Takut AI: Gangguan Mental Akibat Fenomena Baru Dunia Kerja

KabarDermayu.com – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai membawa dampak baru yang signifikan terhadap kesehatan mental para pekerja. Sebuah studi terbaru dari University of Florida (UF), Amerika Serikat, memperkenalkan sebuah istilah baru, yaitu Artificial Intelligence Replacement Dysfunction (AIRD).

Istilah AIRD ini merujuk pada tekanan psikologis yang dialami oleh pekerja akibat kekhawatiran kehilangan pekerjaan mereka karena digantikan oleh teknologi AI. Fenomena ini menjadi perhatian serius para peneliti.

Penelitian mengenai AIRD ini telah dipublikasikan dalam jurnal medis terkemuka, Cureus Journal of Medical Science. Dalam publikasi tersebut, para peneliti menguraikan berbagai gejala umum yang ditunjukkan oleh individu yang mengalami AIRD, serta metode skrining yang efektif. Selain itu, mereka juga membahas pendekatan penanganan yang dapat diadopsi oleh tenaga kesehatan untuk membantu para pasien yang terdampak ancaman AI di dunia kerja.

Seiring dengan semakin meluasnya adopsi AI di berbagai sektor industri, banyak pekerja mulai merasakan kecemasan yang mendalam mengenai prospek karier mereka di masa depan. Stephanie McNamara, seorang mahasiswi psikologi di University of Florida sekaligus salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa ide untuk melakukan penelitian ini muncul setelah ia mengamati adanya peningkatan jumlah kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang secara langsung berkaitan dengan implementasi AI.

Baca juga: 16 Siswi Tewas Terjebak Api di Asrama Sekolah Kenya

“Maret lalu, saya mulai melihat peningkatan PHK akibat AI, dan itu membuat saya berpikir tentang dampak kesehatan mental yang akan ditimbulkannya bagi masyarakat,” ujar McNamara, seperti dikutip dari laporan UF News pada Kamis, 28 Mei 2026.

McNamara menambahkan bahwa ia merasa belum ada pembahasan mendalam mengenai fenomena ini, sehingga ia mengambil inisiatif untuk mengusulkan sebuah kategori gangguan klinis yang secara spesifik menggambarkan kondisi tersebut.

Studi tersebut menggarisbawahi bahwa perubahan fundamental yang dibawa oleh AI telah membuat semakin banyak pekerja merasa terancam akan ketidakrelevanan mereka di lingkungan kerja. Individu yang mengalami AIRD dapat menunjukkan beragam perubahan emosional dan kognitif. Gejala-gejala tersebut meliputi kecemasan yang berlebihan, kesulitan tidur atau insomnia, perasaan paranoid, penolakan terhadap keberadaan AI, hilangnya rasa identitas diri, perasaan tidak berharga, frustrasi yang mendalam, hingga keputusasaan.

Penting untuk dicatat bahwa setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap situasi yang mengancam. Oleh karena itu, gejala AIRD dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang unik bagi setiap orang. Para peneliti menekankan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena gejalanya bisa sangat mirip dengan gangguan mental lainnya yang sudah dikenal.

Untuk mengatasi hal ini, para peneliti mendorong pengembangan metode pemeriksaan yang lebih spesifik. Tujuannya adalah agar tenaga medis dapat secara akurat membedakan AIRD dari kondisi psikologis lainnya. Meskipun AIRD belum secara resmi terdaftar dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), tenaga kesehatan tetap dapat melakukan skrining awal dengan menambahkan pertanyaan-pertanyaan relevan dalam pemeriksaan psikologis standar yang sudah ada.

Profesor psikiatri klinis di University of Florida, Joseph Thornton, mengungkapkan bahwa dampak AI terhadap kesehatan mental para pekerja berpotensi menjadi masalah besar yang belum banyak disadari oleh publik. “Perpindahan pekerjaan akibat AI adalah bencana yang tidak terlihat,” tegas Thornton.

Thornton melanjutkan, “Seperti bencana lain yang memengaruhi kesehatan mental, respons yang efektif harus melampaui ruang praktik dokter dan mencakup dukungan komunitas serta kolaborasi untuk membantu pemulihan.”

Para peneliti juga menilai bahwa kemunculan AIRD menandai sebuah momentum penting bagi para profesional di bidang kesehatan, pendidik, serta pembuat kebijakan. Momen ini menjadi kesempatan untuk mulai mendiskusikan secara serius dampak psikologis AI terhadap tenaga kerja global.

Mereka berpendapat bahwa perlindungan kesehatan mental bagi para pekerja harus menjadi prioritas utama seiring dengan terus berjalannya transformasi cara kerja di berbagai industri yang dipicu oleh AI. Saat ini, penelitian mengenai AIRD masih berada pada tahap awal pengembangannya. Stephanie McNamara dilaporkan sedang aktif mencari kesempatan untuk proyek penelitian lanjutan guna mengumpulkan data yang lebih formal mengenai gangguan psikologis baru ini.

Penelitian lanjutan ini diharapkan dapat memperkuat pengakuan klinis terhadap AIRD. Selain itu, studi tersebut juga diharapkan dapat membantu komunitas medis secara keseluruhan untuk lebih memahami tantangan kesehatan mental baru yang muncul di era kecerdasan buatan.