Harga Emas Antam 20 Mei 2026: Kinclong & Global Meroket

oleh -13 Dilihat
Harga Emas Antam 20 Mei 2026: Kinclong & Global Meroket

KabarDermayu.com – Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan hari ini, Rabu, 20 Mei 2026, dilaporkan mengalami kenaikan. Emas batangan Antam dijual seharga Rp 2.774.000 per gram, meningkat Rp 20.000 per gram dibandingkan dengan harga kemarin.

Berdasarkan data Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam yang dirilis pada Jumat, 29 Mei 2026, harga pembelian kembali atau buyback emas juga ditetapkan naik menjadi Rp 2.579.000 per gram. Perlu dicatat bahwa harga emas Antam dapat berubah sewaktu-waktu.

Untuk berbagai ukuran emas batangan, harga yang ditawarkan bervariasi. Emas lima gram dijual seharga Rp 13.645 juta, 10 gram seharga Rp 27.235 juta, 25 gram seharga Rp 67.962 juta, dan 50 gram seharga Rp 135.845 juta.

Selanjutnya, emas dengan ukuran 100 gram dibanderol Rp 271.612 juta, 250 gram seharga Rp 678.765 juta, dan 500 gram seharga Rp 1.357.320 juta. Untuk ukuran terkecil, yaitu 0,5 gram, dijual seharga Rp 1,437 juta. Sementara itu, emas dengan ukuran terbesar, 1.000 gram, dibanderol senilai Rp 2,714,6 miliar.

Perlu diketahui bahwa harga penjualan emas batangan Antam tersebut belum termasuk pajak. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, transaksi jual emas dikenakan potongan pajak.

Baca juga: Pemprov DKI Bangun 3 Waduk dan Revitalisasi 8 Sungai untuk Atasi Banjir Jakarta

Untuk transaksi buyback emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp 10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi yang tidak memiliki NPWP, dikenakan tarif 3 persen. PPh Pasal 22 ini akan dipotong langsung dari total nilai transaksi buyback.

Emas Global Mengalami Kenaikan

Di pasar global, harga emas pada pagi hari ini juga dilaporkan mengalami kenaikan. Pergerakan positif ini didorong oleh respons investor terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut laporan dari The Economic Times, harga emas di pasar spot tercatat naik sebesar 0,4 persen, mencapai US$4.512,79 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 0,2 persen, menjadi US$4.543,1 per ons.

Kenaikan harga emas global ini menandakan bahwa logam mulia ini kembali diminati sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Investor cenderung beralih ke emas saat terjadi ketegangan internasional atau ketika ada potensi konflik.

Kesepakatan gencatan senjata, meskipun bersifat sementara, seringkali memberikan sedikit kelegaan di pasar keuangan. Namun, dalam kasus ini, tampaknya sentimen risiko global yang masih ada lebih kuat mendorong permintaan terhadap emas.

Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter bank sentral, inflasi, nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta kondisi ekonomi dan politik global. Dalam konteks ini, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran menjadi katalisator utama kenaikan harga emas.

Para analis pasar memperkirakan bahwa volatilitas harga emas kemungkinan akan terus berlanjut, terutama jika situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Selain itu, data ekonomi makro dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok juga akan menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar emas.

Bagi investor yang memiliki emas batangan Antam, kenaikan harga ini tentu menjadi kabar baik. Namun, penting untuk tetap memantau perkembangan pasar dan mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Perlu diingat juga bahwa investasi emas memiliki risiko. Fluktuasi harga bisa terjadi kapan saja, sehingga diversifikasi portofolio investasi tetap menjadi strategi yang bijak.

Dalam berita terkait, pemerintah baru-baru ini juga memberikan pernyataan mengenai harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tengah fluktuasi kurs Dolar AS. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bahwa harga beras SPHP tidak mengalami kenaikan meskipun Dolar AS berfluktuasi, menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan pokok.