Karyawan Takut AI: Gangguan Mental & Fenomena Baru Dunia Kerja

oleh -7 Dilihat
Karyawan Takut AI: Gangguan Mental & Fenomena Baru Dunia Kerja

KabarDermayu.com – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai membawa dampak baru yang signifikan terhadap kesehatan mental para pekerja.

Sebuah tim peneliti dari University of Florida (UF), Amerika Serikat, telah memperkenalkan sebuah istilah baru yang relevan dengan fenomena ini, yaitu Artificial Intelligence Replacement Dysfunction (AIRD).

Istilah AIRD ini merujuk pada tekanan psikologis yang dialami oleh individu ketika mereka merasa terancam kehilangan pekerjaan mereka akibat digantikan oleh teknologi AI.

Temuan penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi, Cureus Journal of Medical Science. Dalam publikasi tersebut, para peneliti merinci gejala-gejala umum yang muncul, metode skrining yang efektif, hingga pendekatan penanganan yang dapat diadopsi oleh para profesional kesehatan.

Tujuannya adalah untuk memberikan dukungan yang memadai bagi para pekerja yang mengalami stres akibat ancaman AI dalam dunia kerja.

Seiring dengan semakin cepatnya adopsi AI di berbagai sektor industri, banyak pekerja yang mulai merasakan kecemasan mendalam mengenai prospek karier mereka di masa depan.

Stephanie McNamara, seorang mahasiswi psikologi di University of Florida yang juga terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa ide penelitian ini muncul setelah ia mengamati peningkatan jumlah kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang secara langsung berkaitan dengan implementasi AI.

“Maret lalu, saya mulai melihat peningkatan PHK akibat AI, dan itu membuat saya berpikir tentang dampak kesehatan mental yang akan ditimbulkannya bagi masyarakat,” ujar McNamara, mengutip dari laporan UF News pada Kamis, 28 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa belum ada pembahasan mendalam mengenai fenomena ini, sehingga ia merasa perlu untuk mengambil inisiatif mengusulkan sebuah gangguan klinis yang spesifik untuk kondisi tersebut.

Penelitian ini menyoroti bagaimana perubahan besar yang dibawa oleh AI membuat banyak pekerja merasa terancam menjadi tidak relevan di lingkungan kerja mereka.

Individu yang mengalami AIRD dilaporkan dapat menunjukkan berbagai perubahan emosional dan kognitif. Gejala-gejala ini meliputi kecemasan yang berlebihan, kesulitan tidur (insomnia), perasaan paranoid, penolakan terhadap keberadaan AI, kehilangan rasa identitas diri, perasaan tidak berharga, frustrasi, hingga keputusasaan.

Karena setiap individu memiliki cara merespons yang unik terhadap stresor, gejala AIRD pun dapat bermanifestasi dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap orang.

Para peneliti menekankan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena gejalanya bisa sangat mirip dengan gangguan mental lainnya yang sudah dikenal.

Oleh karena itu, mereka sangat mendorong pengembangan metode pemeriksaan yang spesifik. Hal ini penting agar para profesional medis dapat secara akurat membedakan AIRD dari kondisi psikologis lainnya yang mungkin memiliki manifestasi serupa.

Meskipun AIRD belum secara resmi masuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), para tenaga kesehatan diyakini tetap dapat melakukan skrining awal. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan pertanyaan-pertanyaan spesifik dalam pemeriksaan psikologis standar yang sudah ada.

Profesor psikiatri klinis di University of Florida, Joseph Thornton, berpendapat bahwa dampak AI terhadap kesehatan mental pekerja berpotensi menjadi masalah yang sangat besar namun belum banyak disadari oleh publik.

“Perpindahan pekerjaan akibat AI adalah bencana yang tidak terlihat,” tegas Thornton, menggambarkan skala masalah yang mungkin tersembunyi.

Ia melanjutkan bahwa, sama seperti bencana lain yang memengaruhi kesehatan mental, respons yang efektif haruslah lebih luas dari sekadar praktik klinis. Dukungan komunitas dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membantu proses pemulihan.

Para peneliti juga melihat kemunculan AIRD sebagai sebuah momentum krusial. Ini menjadi saat yang tepat bagi para tenaga kesehatan, pendidik, dan pembuat kebijakan untuk mulai secara serius membahas dampak psikologis AI terhadap angkatan kerja.

Mereka berargumen bahwa perlindungan kesehatan mental bagi para pekerja harus menjadi prioritas utama seiring dengan terus berlanjutnya AI dalam mengubah lanskap cara kerja di berbagai industri.

Saat ini, penelitian mengenai AIRD masih berada pada tahap awal perkembangannya. Stephanie McNamara dilaporkan sedang aktif mencari peluang untuk proyek penelitian lanjutan.

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data yang lebih formal dan terstruktur mengenai gangguan ini. Diharapkan, penelitian lanjutan ini dapat memperkuat pengakuan klinis terhadap AIRD di kalangan medis.

Baca juga: Bahlil Ingin Bertemu Pencipta Lagu 'Mas Bahlil Ganteng

Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat membantu dunia medis untuk lebih memahami tantangan kesehatan mental baru yang muncul di era disrupsi teknologi AI.