Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Serangan AS ke Iran

oleh -6 Dilihat
Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Serangan AS ke Iran

KabarDermayu.com – Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan signifikan menyusul laporan mengenai serangan terbaru yang dilancarkan oleh Amerika Serikat ke sasaran militer di Iran.

Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran di pasar energi global, terutama terkait potensi gangguan pasokan minyak dunia. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah menjadi perhatian utama para pelaku pasar.

Perdagangan awal di Asia pada Kamis mencatat kenaikan harga minyak. West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,06 persen mencapai US$90,51 per barel, atau setara sekitar Rp1,59 juta dengan kurs Rp17.600 per dolar AS. Sementara itu, minyak mentah Brent juga menguat 2,17 persen menjadi US$96,34 per barel, atau sekitar Rp1,69 juta.

Kenaikan ini terjadi setelah kedua acuan harga minyak dunia tersebut sempat mengalami penurunan lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini. Penurunan sebelumnya dipicu oleh optimisme pasar akan adanya kesepakatan damai yang berpotensi memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, optimisme tersebut kini meredup pasca munculnya laporan serangan militer Amerika Serikat di wilayah selatan Iran. Dalam insiden tersebut, empat drone serang milik Iran dilaporkan berhasil ditembak jatuh.

Seorang pejabat dari Komando Pusat AS menyatakan bahwa tindakan tersebut bersifat defensif. Serangan ditujukan pada stasiun pengendali drone yang diduga akan meluncurkan drone kelima. Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran.

Trump menyatakan bahwa kesepakatan bisa saja dicapai saat ini, namun pemerintah AS hanya ingin menyetujui perjanjian yang benar-benar menguntungkan. “Jika itu bukan kesepakatan yang hebat, kami tidak akan melakukannya,” tegas Trump, mengutip situs Oil Price pada Kamis, 28 Mei 2026.

Dalam kesempatan terpisah, Trump juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak sedang dalam pembahasan untuk melonggarkan sanksi atau memberikan pendanaan kepada Iran. Ia juga melontarkan ancaman tegas terhadap Iran apabila negara tersebut tidak memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Washington.

Sebelumnya, pelaku pasar minyak sempat menunjukkan optimisme. Hal ini dipicu oleh sinyal dari media Iran mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dan diskusi mengenai pencabutan sanksi, termasuk pelepasan aset Iran yang dibekukan.

Namun, komentar terbaru dari Trump serta adanya perpecahan politik di internal Iran dinilai semakin mempersulit peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Laporan lain juga menyebutkan bahwa kelompok garis keras di Iran secara terbuka menyerang tim negosiator yang mempertimbangkan kompromi dengan Amerika Serikat.

Kelompok tersebut dilaporkan menginginkan Iran tetap memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan menolak setiap konsesi terkait pengayaan uranium. Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh data persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang terus mengalami penurunan.

American Petroleum Institute melaporkan bahwa stok minyak mentah AS turun sebanyak 2,8 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini menandai penurunan keenam secara berturut-turut dalam enam minggu terakhir, yang mengindikasikan bahwa pasokan fisik minyak global masih berada di bawah tekanan.

Baca juga: Detik-detik Pemotor Terperosok ke Lubang Jalan Ambles di Lenteng Agung

Meskipun pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung, pasar menilai bahwa risiko lonjakan harga minyak akan tetap tinggi. Hal ini diperkirakan akan berlangsung hingga tercapainya kesepakatan permanen dan solusi jangka panjang yang mampu menjaga keamanan distribusi energi di Selat Hormuz.