Korban Meninggal Akibat Serangan Israel di Gaza Lampaui 72 Ribu

oleh -5 Dilihat
Korban Meninggal Akibat Serangan Israel di Gaza Lampaui 72 Ribu

KabarDermayu.com – Korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza telah menembus angka 72.819 orang. Selain itu, 172.894 warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Data tersebut dihimpun oleh sumber-sumber medis di Jalur Gaza pada Kamis, 28 Mei 2026. Dalam kurun waktu 48 jam terakhir, tercatat enam korban tewas dan 39 korban luka baru yang masuk ke rumah sakit di Gaza.

Sejak gencatan senjata berlaku pada 11 Oktober 2025, jumlah warga Palestina yang tewas bertambah menjadi 922 orang. Sementara itu, korban luka mencapai 2.786 orang dan 781 jenazah berhasil ditemukan.

Sumber yang sama mengungkapkan bahwa masih banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan dan puing-puing jalan. Tim penyelamat dan ambulans belum dapat menjangkau lokasi tersebut.

Krisis Obat-obatan Memperparah Situasi

Kondisi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan dengan menipisnya persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis. Pada Minggu, 24 Mei 2025, sumber-sumber medis telah memperingatkan bahwa situasi ini membahayakan nyawa ribuan pasien.

Sebanyak 250 pasien gagal ginjal terancam kehilangan akses dialisis karena kekurangan larutan Bibag. Perawatan untuk delapan anak yang sakit juga berisiko terhenti akibat minimnya filter medis.

Baca juga: Harga Emas Antam Turun Idul Adha 2026: Rp2,9 Juta/Gram

Kekosongan suntikan insulin memperburuk kondisi sekitar 11.000 pasien diabetes. Selain itu, 110 pasien hemofilia menderita parah karena kurangnya perawatan VACTOR di Jalur Gaza.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menyebut hancurnya layanan kesehatan dan kehidupan manusia di wilayah Palestina sebagai tragedi mengerikan. Sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang meninggal dan 182.000 lainnya terluka.

Dr. Hanan Balkhy, Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur, menyatakan bahwa pada tahun 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru dilaporkan. Pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan terganggu, dan akses kemanusiaan terbatas.

Saat ini, tidak ada rumah sakit yang berfungsi penuh di Gaza. Lebih dari separuh stok obat-obatan penting telah habis, sementara ribuan pasien memerlukan evakuasi medis mendesak.

Penyakit menular terus menyebar di tengah kepadatan penduduk dan kondisi kesehatan yang memburuk. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental juga sangat besar, seiring dengan meningkatnya risiko bagi ibu dan bayi baru lahir.

Di Tepi Barat, situasi juga dilaporkan terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses. Layanan darurat menjadi semakin sulit dijangkau.