Militer AS Fokus pada Kemampuan Mematikan, Bukan Pamer Kekuatan

oleh -6 Dilihat
Militer AS Fokus pada Kemampuan Mematikan, Bukan Pamer Kekuatan

KabarDermayu.com – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menegaskan bahwa Washington akan memprioritaskan kemampuan tempur yang efektif di kawasan Indo-Pasifik. Hal ini disampaikan Hegseth sebagai penekanan pada keunggulan militer yang sesungguhnya, bukan sekadar pamer kekuatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam forum bergengsi Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) Shangri-La Dialogue di Singapura. Acara ini berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2026, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap perkembangan pesat kekuatan militer Tiongkok.

Menurut Hegseth, banyak negara di kawasan tersebut kini merasa cemas. Kekhawatiran ini timbul akibat ekspansi dan modernisasi militer yang terus dilakukan oleh Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir.

“Ketika kita melihat ke seluruh kawasan saat ini, ada kekhawatiran yang beralasan mengenai peningkatan militer China yang bersejarah dan perluasan aktivitas militernya di kawasan dan di luar kawasan,” ujar Hegseth, menekankan kesadaran AS terhadap situasi tersebut.

Ia menambahkan, “Kita memiliki penilaian yang jernih tentang lingkungan keamanan tersebut.” Hal ini menunjukkan bahwa AS telah melakukan analisis mendalam mengenai dinamika keamanan di kawasan.

Meskipun demikian, Hegseth menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tetap berupaya menjaga hubungan yang stabil dengan Tiongkok. Ia menyatakan bahwa hubungan antara kedua negara saat ini berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Di bawah kepemimpinan Presiden (Donald) Trump, hubungan antara Amerika Serikat dan China lebih baik daripada yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.

Baca juga: Manusia Tercepat di Bumi: Kisah Legendaris Kelahirannya

Lebih lanjut, Hegseth memaparkan tujuan pemerintahan Trump dalam menjalin relasi dengan Tiongkok. “Presiden Trump dan pemerintahan ini berupaya mencapai perdamaian yang stabil, perdagangan yang adil, dan hubungan yang saling menghormati dengan China,” katanya.

Namun, ia memberikan penegasan penting: Amerika Serikat tidak akan mengurangi perannya di kawasan Indo-Pasifik. AS siap mempertahankan posisinya dengan kekuatan militer yang nyata dan terukur.

“Jangan salah paham, Amerika adalah negara Pasifik, dan kami bersikeras agar China menghormati posisi kami yang telah lama ada di kawasan ini, dan bukan hanya bersikeras tetapi juga mempertahankan kekuatan militer yang nyata untuk mendukungnya,” tegas Hegseth.

Dalam paparannya mengenai strategi pertahanan AS, Hegseth menekankan bahwa Washington tidak akan mengandalkan retorika belaka atau sekadar demonstrasi kekuatan. Fokus utama adalah pada kemampuan militer yang efektif.

“Kami akan memprioritaskan kemampuan mematikan, disiplin strategis, dan kerja sama yang profesional daripada retorika kosong dan pameran kekuatan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa setiap potensi lawan akan dinilai berdasarkan kekuatan nyata dan kesiapan kolektif AS. “Setiap calon lawan akan dipaksa untuk menilai kami berdasarkan kekuatan keras kami, kesiapan kolektif, dan tekad yang teguh,” tambahnya.

Hegseth kemudian menjelaskan strategi Amerika Serikat di Pasifik. Strategi ini berfokus pada pencegahan, terutama melalui penolakan di sepanjang rantai pulau pertama. Selain itu, AS juga berupaya memperkuat postur pertahanan di kawasan Pasifik Barat.

Selain penguatan kemampuan militer, Hegseth mengungkapkan rencana Washington untuk memperbesar kapasitas industri pertahanan nasional. Tujuannya adalah untuk mendukung kebutuhan militer jangka panjang AS secara berkelanjutan.

“Amerika sedang menjalani mobilisasi manufaktur nasional bersejarah dari basis industri pertahanan kami. Kami akan memproduksi persenjataan terbaik di dunia dalam skala besar, dengan cepat, dan dengan harga yang wajar,” katanya, menunjukkan komitmen pada produksi pertahanan yang efisien.

Ia juga menyebutkan rencana Presiden Trump untuk menaikkan anggaran pertahanan secara signifikan. Anggaran pertahanan tahun ini direncanakan mencapai 1,5 triliun dolar AS, sebuah peningkatan substansial dari 1 triliun dolar AS pada tahun sebelumnya.

Menurut Hegseth, peningkatan anggaran pertahanan ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang. Investasi ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan militer Amerika Serikat secara menyeluruh.

Di luar isu spesifik Indo-Pasifik, Hegseth menegaskan bahwa Washington tetap memiliki fokus global yang luas. Salah satu fokus penting adalah terkait program nuklir Iran. AS tetap berkomitmen untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

“Kita masih memiliki kewajiban global untuk memastikan bahwa Iran tidak mendapatkan senjata nuklir. Kita fokus pada hal itu,” tegasnya, menunjukkan prioritas global AS.