KabarDermayu.com – China kini tidak lagi sekadar menguji coba, melainkan telah mulai mempekerjakan robot humanoid di salah satu pusat logistik terbesarnya. Langkah ini menandai era baru dalam otomatisasi sektor logistik, yang semakin mengandalkan teknologi kecerdasan buatan.
Robot humanoid tersebut ditempatkan di fasilitas logistik Jianggao, bagian dari pusat pos Guangzhou di Provinsi Guangdong. Di sana, mereka bekerja berdampingan dengan lengan robot otomatis dan forklift tanpa awak untuk menangani jutaan paket setiap harinya.
Menurut laporan media pemerintah China, robot humanoid yang beroperasi di fasilitas ini memiliki kemampuan memproses hingga 1.200 paket dalam satu jam. Pusat logistik Guangzhou sendiri merupakan salah satu fasilitas pengiriman terbesar di negara tersebut.
Fasilitas ini rata-rata menangani sekitar 6,5 juta kiriman setiap hari. Angka ini bisa melonjak hingga lebih dari 10 juta paket per hari pada periode puncak. Untuk mengelola volume sebesar itu, operator logistik semakin mengandalkan sistem otomatis yang dapat beroperasi 24 jam penuh dengan intervensi manusia yang minimal.
Robot humanoid ditugaskan untuk mengambil paket dari kontainer dan menempatkannya ke jalur penyortiran. Sementara itu, forklift otonom bertanggung jawab memindahkan barang di area gudang. Demikian dikutip dari Interesting Engineering, Minggu, 31 Mei 2026.
Berbeda dengan robot industri konvensional yang cenderung hanya melakukan satu tugas spesifik, robot humanoid dirancang untuk beroperasi di lingkungan yang sebelumnya telah disesuaikan untuk manusia.
Robot jenis ini mampu bergerak di area gudang, mengidentifikasi paket, berinteraksi dengan rak penyimpanan, serta beradaptasi dengan berbagai tugas tanpa memerlukan perubahan besar pada tata letak fasilitas.
Pengerahan robot humanoid ini juga merupakan bagian dari strategi China untuk mengakselerasi pengembangan industri robotika. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut terus meningkatkan investasi pada sektor robot dan kecerdasan buatan.
Perusahaan-perusahaan di China kini berlomba-lomba mengembangkan robot humanoid untuk beragam sektor. Mulai dari manufaktur, logistik, layanan publik, hingga perawatan lansia.
Sektor logistik dinilai memiliki potensi paling besar. Hal ini seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan pengiriman barang yang didorong oleh pesatnya pertumbuhan e-commerce. Robot yang mampu menyortir, mengidentifikasi, dan memindahkan paket secara otomatis dianggap mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi kerja.
Penerapan di Guangzhou ini juga menunjukkan bahwa otomatisasi modern tidak lagi hanya mengandalkan satu jenis mesin. Berbagai teknologi seperti robot bergerak, sistem visi komputer, kecerdasan buatan, dan kendaraan tanpa awak kini diintegrasikan dalam satu ekosistem kerja yang saling terhubung.
Meskipun demikian, penggunaan robot humanoid masih menghadapi sejumlah tantangan. Biaya pengembangan dan pemeliharaan robot humanoid umumnya lebih tinggi dibandingkan robot industri biasa, mengingat strukturnya yang lebih kompleks.
Baca juga: 7.000 Pelari Ramaikan UI Half Marathon: Siap Lari & Menang!
Selain itu, efektivitas jangka panjang dari teknologi ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut, terutama jika dibandingkan dengan sistem otomatisasi yang lebih sederhana dan sudah umum digunakan. Namun, keputusan China untuk menerapkan robot humanoid di fasilitas yang menangani jutaan paket setiap hari mengindikasikan bahwa teknologi ini mulai dilihat sebagai alat kerja yang nyata, bukan sekadar konsep masa depan.





