Robot Humanoid Gantikan Manusia: Solusi Krisis Tenaga Kerja

oleh -9 Dilihat
Robot Humanoid Gantikan Manusia: Solusi Krisis Tenaga Kerja

KabarDermayu.com – Krisis tenaga kerja yang semakin terasa di berbagai negara mulai mendorong percepatan pengembangan robot humanoid. Teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai inovasi masa depan kini semakin dipandang sebagai solusi nyata untuk mengatasi kekurangan pekerja akibat menurunnya angka kelahiran dan penuaan populasi.

Isu tersebut menjadi salah satu topik utama dalam Humanoids Summit yang berlangsung selama dua hari di Tokyo, Jepang. Acara tersebut mempertemukan perusahaan teknologi, pembuat kebijakan, hingga para ahli robotika untuk membahas perkembangan robot humanoid dan peluang pemanfaatannya di masa depan.

Brendan Schulman, Vice President of Policy di Boston Dynamics, mengatakan banyak negara kini menghadapi tantangan demografi yang serius. “Di Jepang, di Amerika Serikat, dan secara global, kita tidak memiliki tingkat kelahiran yang cukup untuk mempertahankan jumlah tenaga kerja yang kita butuhkan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Japan Times, Minggu, 31 Mei 2026.

Menurut Schulman, penurunan angka kelahiran saat ini telah memicu gelombang investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di sektor robotika. “Penurunan angka kelahiran mendorong gelombang investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam robot.”

Ia menambahkan, potensi ekonomi dari teknologi tersebut sangat besar sehingga memicu persaingan internasional yang semakin ketat. “Ada nilai ekonomi yang sangat besar di hilir, dan tentu saja hal itu memicu pasar kompetitif internasional yang sangat besar.”

Perusahaan konsultan manajemen McKinsey memperkirakan pasar robotika global akan mencapai nilai US$370 miliar atau sekitar Rp6.586 triliun pada 2040, dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS. Besarnya potensi tersebut membuat banyak pemerintah mulai melihat robot berbasis kecerdasan buatan sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengatasi kekurangan tenaga kerja.

Jepang menjadi salah satu negara yang paling serius mengembangkan sektor ini. Negara tersebut menghadapi tekanan besar akibat populasi yang menua dan jumlah penduduk yang terus menurun.

Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pemerintah telah menyusun kebijakan yang menargetkan Jepang menguasai 30 persen pangsa pasar produksi robot AI dunia pada 2040. Perhatian terhadap robot humanoid juga meningkat berkat perkembangan physical AI atau kecerdasan buatan fisik.

Teknologi tersebut memungkinkan mesin memiliki kemampuan berpikir dan bertindak secara lebih mandiri dalam lingkungan dunia nyata. Salah satu perusahaan yang berada di garis depan pengembangan teknologi tersebut adalah Boston Dynamics. Perusahaan yang kini berada di bawah naungan Hyundai Motor itu mengembangkan robot humanoid bernama Atlas.

Robot Atlas diproyeksikan akan digunakan di pabrik-pabrik otomotif Hyundai untuk membantu berbagai pekerjaan manufaktur. Meski dikenal kuat dalam pengembangan perangkat keras, Jepang sempat tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan. Kehadiran ChatGPT pada 2022 bahkan disebut mengejutkan para pejabat pemerintah Jepang.

Toshikazu Okuya, Wakil Direktur Jenderal Biro Kebijakan Perdagangan dan Informasi Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, mengatakan pemerintah saat itu cukup terkejut dengan kemunculan teknologi AI generatif. Ia menyebut banyak masyarakat yang awalnya merasa khawatir terhadap perkembangan teknologi tersebut.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan Jepang terhadap AI berubah secara signifikan. Pemerintah Jepang kini justru mendorong adopsi AI di berbagai sektor. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meluncurkan proyek GENAI, platform AI generatif yang digunakan oleh pegawai pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan.

Program percontohan tersebut melibatkan sekitar 180.000 pegawai pemerintah dari seluruh kementerian dan lembaga. Pemerintah Jepang menargetkan implementasi penuh mulai 2027.

Schulman menilai strategi Jepang menjadi contoh pendekatan baru di mana pemerintah terlibat langsung dalam proses pengumpulan dan pengembangan data AI. “Ini adalah contoh strategi baru di mana pemerintah terlibat langsung.”

Ia menambahkan bahwa pendekatan seperti itu sulit dibayangkan diterapkan oleh pemerintah Amerika Serikat. “Saya tidak bisa membayangkan pemerintah Amerika Serikat mengambil pendekatan seperti itu, atau mungkin banyak pemerintah lainnya.”

Baca juga: Wamendagri Ajak Anak Muda Tingkatkan Kualitas Diri untuk Indonesia Emas

Perkembangan robot humanoid saat ini tidak lagi didorong semata oleh kemajuan teknologi. Di baliknya terdapat tantangan ekonomi dan demografi yang semakin mendesak. Dengan jumlah tenaga kerja yang terus menyusut di banyak negara, robot humanoid diperkirakan akan memainkan peran dalam industri, manufaktur, hingga layanan publik dalam beberapa dekade mendatang.