Patung Soekarno di Kedutaan Besar RI Roma

oleh -11 Dilihat
Patung Soekarno di Kedutaan Besar RI Roma

KabarDermayu.com – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma menggelar upacara khidmat sekaligus meresmikan patung Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Patung yang terbuat dari perunggu ini didirikan di Wisma Duta KBRI Roma. Duta Besar RI untuk Italia, Junimart Girsang, dalam sambutannya menjelaskan bahwa patung ini merupakan bentuk penghormatan atas warisan diplomasi Bung Karno. Selain itu, patung ini juga menjadi simbol keberlanjutan semangat politik luar negeri bebas aktif yang terus dijaga oleh KBRI Roma.

Junimart menekankan pentingnya visi dan keyakinan diri bangsa dalam membangun diplomasi yang kuat, sebagaimana diajarkan oleh Soekarno. Ia berharap patung tersebut dapat menginspirasi para diplomat dan seluruh warga Indonesia di perantauan untuk senantiasa membawa semangat perjuangan. Semangat ini mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan memiliki peran di kancah internasional.

Patung Soekarno digambarkan dalam pose penghormatan yang ikonik. Sosoknya tegak, berbusana pakaian dinas, dengan tatapan lurus ke depan. Pose ini melambangkan kekuatan, ketegasan, dan keberanian seorang pemimpin yang berhasil membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

Baca juga: Karyawan Sering ke Kantor: Peluang Naik Jabatan Lebih Cepat, Studi Ungkap

Inisiatif pembangunan patung ini memiliki akar sejarah yang kuat. Gedung KBRI Roma di Via Campania 55 dan Wisma Duta di Via Piemonte 123, diakuisisi atas perintah langsung Presiden Soekarno. Aset ini resmi menjadi milik Pemerintah Indonesia pada Januari 1956, sebagai bagian dari visi Soekarno untuk menempatkan Indonesia secara prestisius di ibu kota negara-negara penting dunia.

Sejarah mencatat, pada 10 hingga 13 Juni 1956, Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Italia. Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Presiden Italia saat itu, Giovanni Gronchi, dalam sebuah pertemuan kenegaraan resmi di Istana Quirinale.

Dalam rangkaian kunjungan yang sama, Presiden Soekarno juga bertemu dengan Paus Pius XII di Vatikan. Beliau dianugerahi penghargaan Grand Cross of the Pian Order. Soekarno kembali mengunjungi Vatikan pada tahun 1959 dan 1964, di mana beliau diterima oleh Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI.

Acara peringatan Hari Lahir Pancasila di KBRI Roma turut dihadiri oleh Puan Maharani, cucu Soekarno yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Puan hadir sebagai inspektur upacara.

Dalam amanatnya, Puan Maharani menekankan pentingnya warga negara Indonesia untuk senantiasa menjaga nilai-nilai kebangsaan, terutama saat berada di luar negeri. Ia mengingatkan bahwa Pancasila harus selalu tertanam di hati setiap individu, di mana pun mereka berada, karena Pancasila adalah bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia.

Semangat menjaga identitas bangsa ini juga diungkapkan oleh generasi muda diaspora dan mahasiswa Indonesia di Italia. Mewakili mereka, Dimas Prasetia menyampaikan sambutannya pada acara tersebut. Dimas menegaskan komitmen generasi muda untuk meneruskan cita-cita kebangsaan.

Dimas berharap peresmian patung Bung Karno ini dapat menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran semangat Indonesia di panggung dunia. Ia menambahkan bahwa tugas generasi muda adalah berani bermimpi besar untuk Indonesia, di mana pun mereka berada.

Patung Presiden Soekarno di Wisma Duta KBRI Roma dikerjakan oleh Gusti Dipa Art Gallery. Galeri ini merupakan pelaku usaha seni rupa skala menengah kecil dari Indonesia, yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang seni patung. Galeri ini beroperasi dari Bantul, Yogyakarta, dan Bekasi.

Penugasan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal ini menunjukkan komitmen KBRI Roma dalam mendukung pengembangan industri kreatif Indonesia. Selain itu, inisiatif ini juga menjadi bagian dari diplomasi budaya yang diharapkan dapat terus memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.