Kisah Pilu Anak Penjual Rempeyek yang Ditinggal Ayah, Dedi Mulyadi Turun Tangan

oleh -7 Dilihat
Kisah Pilu Anak Penjual Rempeyek yang Ditinggal Ayah, Dedi Mulyadi Turun Tangan

KabarDermayu.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan kepedulian mendalam saat meninjau penataan kawasan Jalan Sukajadi, Bandung. Ia memerintahkan pembongkaran salah satu pagar besi yang dinilai menghalangi akses jalan dan mengurangi keterbukaan area.

Dedi, yang akrab disapa KDM, berpendapat bahwa satu pagar saja sudah cukup untuk dipertahankan. Pagar lainnya perlu dilepas agar kawasan tersebut terlihat lebih lapang dan ramah.

Di tengah kesibukannya memantau area, Dedi Mulyadi mendadak dikerumuni oleh sejumlah anak yang ingin berfoto dengannya. Namun, perhatiannya tertuju pada seorang anak yang berdiri agak terpisah, memegang dagangan rempeyek.

KDM kemudian menghampiri anak tersebut dan memulai percakapan hangat. Ia bertanya apakah anak itu rajin belajar dan sekolah.

“Sini kamu, rajin, kamu sekolah?” tanya KDM.

Sang anak menjawab bahwa dirinya masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Percakapan kemudian beralih ke kondisi keluarganya.

Dedi Mulyadi lantas menanyakan keberadaan ayah sang anak. Pertanyaan ini dijawab dengan lirih oleh anak yang mengenakan jersey Persib Bandung itu.

“Bapaknya masih ada?” tanya KDM.

“Sudah cerai,” jawab anak tersebut.

“Jadi sekarang tinggal siapa?” tanya Dedi lagi.

“Sama Mama,” jawabnya.

Terungkap bahwa ayah sang anak kini berdomisili di Purwakarta, sementara ibunya berasal dari Sukagalih dan bekerja di sebuah salon. KDM kembali bertanya mengenai pekerjaan sang ibu.

“Kerja apa ibu kamu sekarang?” tanya KDM.

Mendengar jawaban tersebut, Dedi Mulyadi menangkap sorot mata sang anak yang tampak berkaca-kaca. Ketika ditanya alasannya, anak itu mengaku sedih karena merindukan ayahnya.

Ia mengungkapkan bahwa sudah lebih dari dua tahun tidak tinggal bersama sang ayah. KDM terus menggali informasi mengenai nafkah dan biaya sekolah.

“Nggak dikasih nafkah sama Bapak? nggak dikirimin uang buat sekolah?” tanya KDM.

“Nggak, mama yang biayain,” jawabnya.

Sang anak juga bercerita bahwa uang jajannya sehari-hari berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Sebagian besar uang tersebut ia sisihkan untuk ditabung, terutama karena di sekolah sudah ada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan adanya program MBG, uang jajan yang diterima bisa lebih banyak ditabung. Sepulang sekolah, ia aktif membantu ibunya menambah pemasukan dengan berjualan rempeyek.

Jika seluruh dagangannya yang berjumlah sekitar 15 hingga 20 bungkus laku terjual, ia bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp40 ribu. Seluruh keuntungan ini ia simpan sebagai tabungan.

KDM merasa penasaran dengan jumlah tabungan yang telah berhasil dikumpulkan oleh anak penjual rempeyek tersebut.

“Ada sejuta setengah Pak,” jawab sang anak dengan bangga.

Mendengar jumlah tabungan tersebut, Dedi Mulyadi merasa kagum dengan kegigihan dan kebiasaan menabung yang ditunjukkan oleh anak itu. Ia pun tergerak untuk memberikan bantuan.

KDM berinisiatif menambah tabungan anak tersebut sebesar Rp5 juta. Namun, ia berpesan agar buku tabungannya dibawa.

“Tapi bawa buku tabungannya ke Pak Dedi,” ujarnya.

Selanjutnya, Dedi Mulyadi meminta timnya untuk segera menghubungi ibu sang anak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan nomor rekening tabungan agar bantuan tersebut dapat segera disalurkan.

Sebelum berpisah, KDM juga menyempatkan diri untuk membeli dagangan rempeyek yang dijual oleh anak tersebut.

“Jadi ini sebungkus berapa? Sekarang mah ngasih 200 ribu dulu.”

Baca juga: Kinerja Aparatur Negara Era Disrupsi & AI: ASN Perlu Jadi Problem Solver

Menerima bantuan dan perhatian langsung dari orang nomor satu di Jawa Barat, sang anak tak kuasa menahan haru. Ia mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca.