KabarDermayu.com – Ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memicu perhatian serius mengenai prospek penguatan mata uang nasional dalam jangka pendek. Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, beberapa pengamat berpendapat bahwa peluang penguatan rupiah masih terbuka.
Namun demikian, proses pemulihan mata uang Garuda diprediksi tidak akan berjalan mudah. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga ketersediaan dolar AS di dalam negeri serta memperkuat cadangan devisa.
Menurutnya, salah satu alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan memanfaatkan akses pembiayaan atau utang dari lembaga keuangan internasional. Ia berpendapat bahwa rupiah akan menguat jika pemerintah bersedia mencari utang baru di luar negeri.
Baca juga: Kuasa Hukum Yaqut Ungkap Hasil Pemeriksaan KPK, Sebut Eks Menag Tidak Diperiksa Aliran Uang
Ibrahim menyinggung bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sebelumnya telah memberikan sinyal terkait kemungkinan dukungan pembiayaan kepada Indonesia apabila diperlukan. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk menerima pinjaman sepenuhnya berada di tangan pemerintah.
Sebagai seorang analis, Ibrahim mengingatkan bahwa fasilitas pembiayaan dari lembaga internasional umumnya disertai dengan sejumlah persyaratan kebijakan. Ia menyatakan bahwa IMF dan Bank Dunia sudah memberikan sinyal positif untuk membantu pemerintah Indonesia dengan memberikan pinjaman.
Keputusan untuk menerima pinjaman tersebut sepenuhnya bergantung pada kesiapan pemerintah. Jika pemerintah menerima tawaran tersebut, akan ada berbagai kesepakatan yang perlu dipenuhi, termasuk terkait reformasi kebijakan subsidi. Ibrahim menjelaskan bahwa keinginan IMF dan Bank Dunia adalah agar subsidi dihapuskan, yang dianggap sebagai salah satu cara untuk menguatkan mata uang rupiah.
Selain faktor pembiayaan, Ibrahim juga menilai pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Ia berpendapat bahwa jika Selat Hormuz dibuka kembali dan perang selesai, kemungkinan rupiah akan kembali menguat.
Namun, Ibrahim melihat peluang meredanya ketegangan dalam waktu dekat masih cukup kecil. Konflik yang berkepanjangan dinilai akan terus memberikan tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ia memperkirakan bahwa harapan Selat Hormuz dibuka hingga tahun 2027 kemungkinan besar tidak akan terjadi, sehingga perang akan berlangsung lebih lama.
Dalam kondisi tersebut, Ibrahim menyimpulkan bahwa satu-satunya cara rupiah menguat adalah dengan meminta utang baru dari IMF maupun Bank Dunia. Di sisi lain, analis pasar uang Lukman Leong berpendapat bahwa masih terdapat instrumen domestik yang dapat menopang penguatan rupiah tanpa harus bergantung pada sumber pembiayaan eksternal.
Menurut Lukman, implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta rencana penerapan sistem ekspor satu pintu berpotensi meningkatkan pasokan valuta asing di pasar domestik. Ia berharap kebijakan DHE dan ekspor satu pintu dapat mendukung penguatan rupiah.
Sebagai informasi tambahan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa sore ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen di level Rp17.839 per dolar AS.





