KabarDermayu.com – Mantan Presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi semata tidak lagi dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan pembangunan. Hal ini terutama penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang melanda berbagai negara.
SBY menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang saat ini tidak hanya sebatas mengejar laju pertumbuhan ekonomi yang cepat. Lebih dari itu, fokus pembangunan harus diarahkan pada penciptaan pertumbuhan yang kokoh, merangkul semua kalangan, dan bersifat berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi saja tidak lagi memadai. Suatu negara bisa saja mencatat angka pertumbuhan yang impresif, namun di saat yang sama menghadapi jurang ketimpangan yang semakin lebar, menurunnya tingkat kepercayaan publik, serta terpecahnya tatanan sosial,” ujar SBY dalam pidatonya di The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menekankan bahwa tantangan pembangunan masa kini mencakup lebih dari sekadar mendorong pertumbuhan ekonomi. Negara juga perlu memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai isu global seperti ketegangan geopolitik, dampak perubahan iklim, serta pesatnya perkembangan teknologi.
SBY juga menggarisbawahi krusialnya upaya memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap manfaat dari pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu strategi kunci untuk memperkuat fondasi ekonomi sekaligus memperluas inklusi ekonomi.
Lebih lanjut, SBY berpendapat bahwa model pertumbuhan ekonomi yang selama ini dianut oleh kawasan Asia perlu mengalami transformasi. Ia menyatakan bahwa Asia tidak bisa terus-menerus bergantung pada keunggulan biaya tenaga kerja yang rendah, ekspor komoditas, dan konsumsi domestik sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonominya.
Menurutnya, pertumbuhan di kawasan Asia ke depannya harus ditopang oleh peningkatan produktivitas, semangat kewirausahaan, inovasi yang berkelanjutan, adopsi teknologi digital, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.
“Di masa depan, daya saing suatu negara tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang mampu memproduksi barang dengan harga paling murah. Daya saing akan lebih banyak bergantung pada kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, terus berinovasi, dan berinvestasi secara signifikan pada pengembangan potensi sumber daya manusia,” tegasnya. (Ant)





