KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru setelah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi, 4 Juni 2026. Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah yang pernah dialami mata uang Indonesia di tengah menguatnya dolar AS secara global serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap berbagai risiko ekonomi dan geopolitik dunia.
Sehari sebelumnya, rupiah telah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS atau melemah 127,5 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Meski pemerintah menilai tekanan yang terjadi lebih dipengaruhi sentimen pasar dan spekulasi jangka pendek daripada fundamental ekonomi domestik, level Rp18.000 tetap menjadi sinyal penting yang mendapat perhatian besar dari pelaku pasar.
Jika menilik sejarah, pelemahan rupiah bukanlah peristiwa baru. Mata uang ini telah beberapa kali menghadapi tekanan berat akibat krisis ekonomi, gejolak politik, hingga guncangan global.
Berikut perjalanan panjang periode-periode terlemah rupiah sepanjang sejarah, seperti dirangkum dari berbagai sumber.
1. Krisis Moneter 1997 Menjadi Titik Awal Kejatuhan
Pada Agustus hingga Oktober 1997, rupiah mulai terguncang akibat krisis keuangan Asia. Nilai tukar yang sebelumnya berada di sekitar Rp2.500 per dolar AS merosot ke kisaran Rp3.000.
Tekanan spekulatif yang sangat besar memaksa Bank Indonesia meninggalkan sistem kurs terkendali dan beralih ke mekanisme kurs mengambang bebas. Situasi tersebut kemudian mendorong pemerintah meminta bantuan IMF guna menstabilkan ekonomi nasional.
2. Tahun 1998, Masa Paling Kelam bagi Rupiah
Puncak krisis terjadi pada Mei hingga Juni 1998. Rupiah sempat ditutup di level Rp15.200 per dolar AS pada 16 Juni 1998 dan bahkan menyentuh Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday.
Krisis ekonomi yang berkembang menjadi krisis politik, kerusuhan sosial, hingga pergantian pemerintahan setelah pengunduran diri Presiden Soeharto memperburuk kepercayaan investor terhadap Indonesia.
3. Ketidakpastian Politik 2001 Menekan Rupiah
Memasuki era reformasi, rupiah kembali mengalami tekanan pada April 2001. Nilai tukar bergerak di rentang Rp10.500 hingga Rp12.000 per dolar AS.
Penyebab utamanya adalah meningkatnya ketegangan politik nasional terkait proses pemakzulan Presiden Abdurrahman Wahid serta memburuknya hubungan pemerintah dengan IMF.
4. Krisis Finansial Global 2008 Mengguncang Pasar
Kebangkrutan Lehman Brothers pada September 2008 memicu kepanikan global. Investor menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset aman.
Akibatnya, rupiah yang sebelumnya stabil di kisaran Rp9.000 per dolar AS merosot hingga berada di rentang Rp12.100 sampai Rp12.600 per dolar AS pada November 2008.
5. Tahun 2015 dan Dampak Penguatan Dolar AS
Pada September 2015, rupiah ditutup di level Rp14.645 per dolar AS. Pelemahan dipicu oleh normalisasi kebijakan moneter Federal Reserve dan devaluasi yuan China yang menyebabkan arus modal asing keluar dari pasar domestik.
6. Gejolak Emerging Market pada 2018
Tekanan terhadap mata uang negara berkembang kembali terjadi pada September-Oktober 2018. Rupiah sempat menyentuh Rp15.230 per dolar AS.
Saat itu investor global berbondong-bondong mencari aset safe haven setelah mata uang sejumlah negara berkembang seperti Turki dan Argentina mengalami gejolak hebat.
7. Pandemi Covid-19 Menghantam Rupiah pada 2020
Maret 2020 menjadi salah satu periode paling berat sejak reformasi. Kepanikan akibat pandemi Covid-19 membuat rupiah menembus level Rp16.550 per dolar AS.
Arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia meningkat tajam seiring melonjaknya permintaan terhadap dolar AS.
8. Suku Bunga Tinggi AS Menekan Rupiah pada 2024
Pada pertengahan 2024, rupiah kembali melemah hingga menembus Rp16.400 per dolar AS. Penyebab utamanya adalah kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve yang bertahan lebih lama dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut membuat dolar AS semakin kuat dan menarik dana investor dari negara-negara berkembang.
9. Kebijakan Tarif Global Trump pada 2025
April 2025 menjadi periode penuh tekanan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif.
Rupiah sempat ditutup di Rp16.865 per dolar AS dan menyentuh Rp16.970 per dolar AS secara intraday, menjadikannya salah satu titik terlemah sepanjang sejarah saat itu.
10. Awal 2026, Rekor Baru Terus Bermunculan
Pada Januari 2026, rupiah kembali mencetak rekor pelemahan dengan penutupan di level Rp16.935 per dolar AS. Penguatan dolar AS serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia menjadi faktor utama yang membebani pasar.
11. April 2026 hingga Menembus Rp17.000
Tekanan belum berhenti. Pada awal April 2026, rupiah untuk pertama kalinya menembus level Rp17.005 per dolar AS secara intraday.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi dunia, dan meningkatnya permintaan aset safe haven membuat mata uang Garuda terus berada di bawah tekanan.
12. Juni 2026, Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Kini, sejarah kembali tercatat. Rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026. Angka ini menjadi simbol betapa kuatnya tekanan eksternal yang sedang dihadapi pasar keuangan global.
Meski pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga, perjalanan panjang rupiah menunjukkan bahwa nilai tukar sangat sensitif terhadap kombinasi faktor global dan domestik. Dengan kondisi dunia yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan rupiah ke depan akan tetap menjadi salah satu indikator utama yang dipantau investor dan pelaku usaha.





