Rupiah Melemah Rp 17.817: Proteksionisme AS & Timur Tengah

oleh -1 Dilihat
Rupiah Melemah Rp 17.817: Proteksionisme AS & Timur Tengah

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.826 pada Jumat, 19 Juni 2026. Posisi rupiah itu stagnan dari kurs sebelumnya di level yang sama pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 22 Juni 2026 hingga pukul 09.05 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.817 per dolar AS. Posisi itu melemah 13 poin atau 0,07 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.804 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS dipicu perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Hal ini juga dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump, serta arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Walsh.

Meskipun Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman tahap pertama yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan sanksi ekonomi, ketegangan di Timur Tengah dinilai belum sepenuhnya mereda.

Hal ini terlihat dari aksi saling serang antara Israel dan Lebanon, yang memunculkan kekhawatiran Iran akan kembali menutup Selat Hormuz apabila kesepakatan perdamaian dilanggar.

Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Rusia terus meningkatkan serangan terhadap infrastruktur di ibu kota Ukraina, Kyiv, yang menambah ketidakpastian di pasar global.

“Hal ini juga membuat satu kecemasan di Eropa Timur yang bisa mengangkat harga minyak, yang bisa menguatkan indeks dollar AS,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 22 Juni 2026.

Terlebih, pemerintahan Trump akan kembali fokus pada agenda proteksionisme dan perang dagang melalui penerapan tarif resiprokal terhadap negara-negara mitra dagang.

Kebijakan yang bertujuan menyeimbangkan neraca perdagangan AS ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset berdenominasi dolar AS.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.800- Rp 17.850,” ujarnya.

Sebagai informasi, pasar juga mencermati arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Walsh. Diperkirakan, The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan untuk menurunkan inflasi ke target 2 persen.

The Fed akan menghentikan praktek pemberian panduan ke depan. Kebijakan ini diambil agar pasar tidak berspekulasi, dan lebih berfokus pada dinamika indikator ekonomi makro yang objektif.

Hal ini serupa dengan yang dilakukan Bank Indonesia, yang banyak kebijakannya bertujuan untuk menguatkan mata uang rupiah meskipun rupiah tak kunjung menguat.

IHSG Dibuka Menghijau, Wall Street Rebound & Bursa Asia Anjlok Imbas Geopolitik Timur Tengah

IHSG dibuka menguat 30 poin atau 0,50 persen di level 6.207 pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026 dan diprediksi datar (sideways) cenderung melemah hari ini.

VIVA.co.id – 22 Juni 2026