Harga Batu Bara Anjlok 9%: India Pemicu Utama Tekanan Pasar Global

oleh -1 Dilihat
Harga Batu Bara Anjlok 9%: India Pemicu Utama Tekanan Pasar Global

KabarDermayu.com – Harga batu bara dunia mengalami penurunan signifikan sebesar 9% dalam sepekan terakhir, didorong oleh sentimen negatif dari India yang merupakan importir batu bara termal terbesar kedua di dunia.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, harga batu bara dunia untuk kontrak Juli 2026 tercatat melemah tipis 0,04% menjadi US$131,5 per ton. Namun, penurunan agregat sepanjang pekan ini mencapai 9,31% secara point-to-point.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang telah terjadi dalam beberapa waktu terakhir, utamanya disebabkan oleh berkurangnya permintaan impor dari negara-negara konsumen utama.

Impor India Mencapai Titik Terendah dalam Empat Tahun

Salah satu kontributor utama pelemahan harga batu bara berasal dari India. Laporan dari Reuters mengindikasikan bahwa impor batu bara termal India antara Januari hingga Mei 2026 mencapai level terendah dalam empat tahun terakhir.

Penurunan impor ini disebabkan oleh peningkatan produksi batu bara domestik dan percepatan adopsi energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Dalam lima bulan pertama tahun 2026, total impor batu bara termal India hanya mencapai 65 juta ton, menurun 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Situasi ini menjadi perhatian pasar global mengingat India adalah salah satu konsumen batu bara terbesar di dunia. Melemahnya impor dari negara tersebut secara signifikan memberikan tekanan pada harga batu bara global.

Pemerintah India juga secara aktif menjalankan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan batu bara impor. Targetnya adalah pengurangan penggunaan batu bara termal untuk pembangkit listrik setidaknya 30% sepanjang tahun ini.

Produksi Domestik dan Energi Terbarukan Meningkat

Bersamaan dengan upaya pengurangan impor, India justru meningkatkan produksi batu bara domestiknya. Coal India, produsen batu bara terbesar di negara itu, telah menginstruksikan seluruh anak perusahaannya untuk meningkatkan produksi guna mengantisipasi lonjakan konsumsi listrik akibat gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Nino.

Selain faktor produksi domestik, perkembangan pesat sektor energi terbarukan juga menjadi tantangan baru bagi permintaan batu bara.

Data menunjukkan bahwa total produksi listrik India dari Januari hingga Mei 2026 meningkat sebesar 5% dibandingkan tahun lalu. Namun, pertumbuhan energi terbarukan jauh lebih impresif, melonjak 22% pada periode yang sama.

Peningkatan kapasitas energi bersih ini secara bertahap mengurangi ketergantungan India pada batu bara impor.

Di sisi lain, tingginya harga batu bara impor serta peningkatan biaya pengiriman akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut menekan minat impor.

Permintaan Listrik Naik, Namun Tekanan pada Batu Bara Tetap Ada

Meskipun impor menurun, kebutuhan listrik di India tetap menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada 21 Mei 2026, permintaan listrik puncak India bahkan melampaui proyeksi pemerintah, mencapai lebih dari 270 gigawatt akibat gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah.

Berdasarkan data Grid-India, permintaan listrik pada bulan Mei 2026 meningkat 11,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandai level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, pembangkit listrik berbasis batu bara masih memegang peranan penting. Produksi listrik dari batu bara naik 10% secara tahunan pada Mei 2026, merupakan kenaikan tertinggi sejak Mei 2024.

Namun, pertumbuhan energi terbarukan tetap jauh lebih agresif.

Produksi listrik dari sumber energi terbarukan melonjak 29,31% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 27,58 miliar kilowatt-jam (kWh). Capaian ini memecahkan rekor baru dengan kontribusi sebesar 17,9% terhadap total pembangkitan listrik nasional India.

Perkembangan ini dinilai pasar sebagai sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi batu bara di India berpotensi melambat dalam jangka panjang.

Reli Batu Bara Kokas China Belum Mampu Menopang Pasar Global

Di tengah pelemahan pasar batu bara termal, batu bara kokas di China menunjukkan tren yang berbeda, melanjutkan penguatan harga akibat gangguan pasokan.

Kenaikan harga ini terjadi setelah pemerintah China memperketat pengawasan keselamatan tambang menyusul insiden kecelakaan tambang pada akhir Mei lalu.

Sebanyak 155 tambang batu bara di Provinsi Shanxi, salah satu wilayah penghasil batu bara utama di utara China, ditutup sementara untuk pemeriksaan keselamatan.

Penutupan ini menyebabkan berkurangnya pasokan batu bara kokas domestik dan mendorong kenaikan harga di pasar lokal.

Akibat gangguan pasokan tersebut, importir China mulai meningkatkan pembelian dari negara pemasok seperti Australia dan Kanada untuk kebutuhan pengiriman Juni hingga Juli 2026.

Meskipun demikian, penguatan harga batu bara kokas belum mampu mengimbangi tekanan yang terjadi pada pasar batu bara termal global.

Data juga menunjukkan bahwa impor batu bara kokas China selama empat bulan pertama 2026 meningkat 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh pasokan yang lebih besar dari Mongolia serta membaiknya sistem logistik perbatasan.

Namun, peningkatan impor ini terjadi di tengah penurunan produksi baja China sebesar 4,1%, sehingga belum cukup kuat untuk mengangkat sentimen pasar batu bara secara keseluruhan.

Tekanan dari melemahnya impor India akhirnya menjadi faktor dominan yang membuat harga batu bara dunia kembali merana sepanjang pekan ini, dengan penurunan lebih dari 9% dan ditutup di level US$131,5 per ton.