KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi tekanan politik yang kian meningkat terkait kebijakan konfrontatifnya terhadap Iran. Setelah berbulan-bulan mempertahankan narasi bahwa Washington unggul dalam konflik dengan Teheran, Trump kini dihadapkan pada berbagai hambatan yang menyempitkan ruang geraknya, baik di ranah politik domestik maupun kancah geopolitik internasional.
Tekanan terbaru datang dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS yang telah meloloskan sebuah resolusi. Resolusi ini mengharuskan presiden untuk memperoleh persetujuan legislatif sebelum melanjutkan aksi militer terhadap Iran. Sebanyak 215 anggota DPR menyetujui resolusi tersebut, sementara 208 legislator menolaknya.
Meskipun resolusi itu tidak secara langsung mengikat presiden, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa dukungan politik terhadap strategi Trump terhadap Iran mulai terkikis. Bahkan, perpecahan dukungan ini muncul dari dalam Partai Republik sendiri.
Empat Politikus Republik Membelot
Salah satu sorotan terbesar dari pemungutan suara tersebut adalah keputusan empat anggota DPR dari Partai Republik untuk mendukung resolusi yang diajukan oleh kubu Demokrat. Keempat legislator tersebut adalah Thomas Massie, Brian Fitzpatrick, Warren Davidson, dan Tom Barrett.
Mereka berasal dari wilayah yang dikenal sebagai swing states atau negara bagian penentu hasil pemilu. Sikap mereka dinilai bukan sekadar perbedaan pandangan mengenai kebijakan luar negeri, melainkan juga mencerminkan perubahan sentimen politik yang mulai berkembang di basis pemilih.
Fakta bahwa penolakan terhadap eskalasi perang muncul dari negara bagian yang kerap menentukan kemenangan dalam pemilu menjadi perhatian serius menjelang Pemilu Sela AS. Situasi ini juga membuka kemungkinan perubahan konfigurasi politik di Kongres yang berpotensi memengaruhi stabilitas pemerintahan Trump ke depan.
Dukungan untuk Perang Melawan Iran Terus Menurun
Tekanan terhadap Trump tidak hanya datang dari parlemen. Berbagai survei terbaru menunjukkan publik Amerika semakin skeptis terhadap manfaat konflik dengan Iran. Berdasarkan hasil University of Maryland Critical Issues Poll yang dilakukan pada 15 hingga 21 Mei 2026, sebanyak 56 persen warga Amerika menilai perang terhadap Iran lebih banyak membawa dampak negatif dibandingkan manfaat bagi AS.
Sebaliknya, hanya 12 persen responden yang menilai konflik tersebut memberikan dampak positif. Data lain yang tak kalah mencolok menunjukkan hanya 16 persen responden yang percaya Amerika Serikat telah memenangkan perang melawan Iran.
Angka tersebut jauh di bawah 38 persen responden yang menilai Washington gagal meraih kemenangan. Temuan ini memperlihatkan semakin besarnya keraguan publik terhadap arah kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.
Tujuan Utama Perang Dinilai Tidak Tercapai
Di tengah melemahnya dukungan politik, berbagai kalangan akademisi, lembaga riset, hingga media nasional AS juga mulai mempertanyakan hasil nyata dari strategi yang dijalankan Trump terhadap Iran. Sejumlah pengamat menilai tujuan utama yang selama ini diklaim Washington belum berhasil diwujudkan.
Iran tetap mempertahankan struktur pemerintahannya dan tidak mengalami perubahan rezim sebagaimana sering menjadi spekulasi selama konflik berlangsung. Selain itu, Teheran juga dinilai masih mampu mengelola program nuklirnya, mempertahankan kemampuan militernya, serta menjaga pengaruh terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan.
Pandangan serupa juga muncul dari berbagai lembaga kajian dan media besar AS yang menilai Iran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah meskipun menghadapi tekanan militer dan ekonomi yang besar. Di sisi lain, operasi militer yang dijalankan AS disebut telah menghabiskan biaya sangat besar tanpa menghasilkan capaian yang dianggap menentukan.
Posisi Iran Dinilai Justru Menguat
Sejumlah analis bahkan berpendapat bahwa konflik tersebut justru memberikan ruang bagi Iran untuk memperkuat posisinya, baik secara regional maupun internasional. Salah satu indikator yang sering disorot adalah posisi Iran di kawasan Teluk, khususnya terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Dalam berbagai penilaian, Iran dianggap masih memiliki pengaruh strategis yang signifikan di kawasan tersebut. Situasi ini berbeda dengan harapan awal Washington yang ingin memperlemah daya tawar Teheran. Tidak hanya itu, dalam proses diplomasi dan perundingan, Iran juga dinilai tampil lebih percaya diri dalam mengajukan syarat dan kepentingannya sendiri.
Kondisi tersebut membuat posisi Amerika Serikat tidak lagi sepenuhnya dominan dalam menentukan arah negosiasi sebagaimana yang selama ini terjadi.
Trump Menghadapi Jalan Buntu Politik
Bagi Trump, tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal dinamika di Timur Tengah, melainkan juga tekanan politik di dalam negeri. Resolusi DPR memang belum menjadi penghalang hukum yang mutlak.
Namun, jika Trump memutuskan mengambil langkah militer baru terhadap Iran tanpa dukungan Kongres, risikonya akan jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Langkah tersebut berpotensi memicu konflik politik baru dengan legislatif dan memperburuk hubungan dengan sebagian anggota Partai Republik yang mulai menunjukkan perbedaan sikap.
Selain itu, penolakan publik terhadap perang, biaya konflik yang terus membengkak, hingga belum tercapainya berbagai tujuan strategis membuat ruang manuver politik Trump semakin terbatas. Kondisi ini menjadikan kebijakan Iran sebagai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemerintahan Trump saat ini.
Di tengah menurunnya dukungan politik dan meningkatnya kritik dari berbagai pihak, Presiden AS tersebut kini berada dalam posisi yang jauh lebih sulit untuk melanjutkan agenda konfrontatifnya terhadap Teheran. Berbagai perkembangan itu memperlihatkan bahwa upaya menekan Iran tidak berjalan sesuai harapan.
Ketika dukungan domestik mulai terpecah dan hasil di lapangan diperdebatkan, Trump menghadapi situasi yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai jalan buntu politik dalam menghadapi Iran.





