Teladani Pendiri NU, Pesantren Diharapkan Lahirkan Pemimpin dan Manajer

oleh -8 Dilihat
Teladani Pendiri NU, Pesantren Diharapkan Lahirkan Pemimpin dan Manajer

KabarDermayu.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong agar lembaga pesantren tidak hanya mencetak pemimpin yang memiliki karisma, tetapi juga dibekali dengan kemampuan manajerial yang kuat. Hal ini penting agar lulusan pesantren mampu menghadapi berbagai tantangan di era modern.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menag saat membuka kegiatan “Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren melalui Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah” yang berlangsung di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.

Menag menekankan bahwa pesantren memiliki kekhasan dalam sistem keilmuan yang berbeda dari lembaga pendidikan lainnya. Oleh karena itu, penguatan Direktorat Jenderal Pesantren harus difokuskan untuk memperkuat identitas, tradisi keilmuan, serta keunggulan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

Ia menambahkan bahwa pesantren memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang unik. Keunggulan ini perlu terus ditingkatkan agar pesantren dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan mengikuti perkembangan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Menag menyoroti sosok KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai contoh ideal pemimpin pesantren. Beliau berhasil memadukan visi besar dengan kemampuan mengelola organisasi secara efektif.

Menurut Menag, KH. Abdul Wahab Hasbullah tidak hanya dikenal sebagai tokoh pergerakan yang memiliki pengaruh luas, tetapi juga sebagai individu yang mampu membangun dan mengelola organisasi dengan profesional.

“Pesantren ke depan tidak cukup hanya melahirkan figur pemimpin yang kharismatik. Pesantren juga harus melahirkan pengelola yang profesional, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan lembaga,” tegasnya.

Menag kemudian mengutip Rasulullah SAW sebagai figur teladan yang memadukan kepemimpinan dan manajemen dalam satu kesatuan. Model kepemimpinan seperti inilah yang diharapkan dapat menginspirasi pengembangan pesantren di Indonesia.

Selain itu, Menag juga menekankan pentingnya menjaga tradisi nasionalisme yang telah lama tertanam di lingkungan pesantren. Ia mengakui kontribusi besar pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa dan membentuk karakter kebangsaan masyarakat Indonesia.

“Pesantren sejak awal telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan komitmen kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membangun Indonesia,” katanya.

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menjelaskan bahwa kegiatan bedah buku ini merupakan bagian dari upaya memperkuat peran pesantren sekaligus menghidupkan kembali warisan pemikiran para ulama pendiri bangsa.

Basnang menambahkan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan tonggak sejarah penting bagi pengembangan pesantren di Indonesia. Keberadaan Ditjen Pesantren ini merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, sekaligus sebagai bentuk penguatan kelembagaan bagi lebih dari 42 ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Ini merupakan capaian bersejarah bagi dunia pesantren. Kami bersyukur pesantren kini memiliki penguatan kelembagaan yang lebih kuat untuk mendukung pengembangan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Basnang.

Ia menjelaskan bahwa Direktorat Pesantren saat ini sedang menyusun arah pengembangan pesantren untuk sepuluh tahun mendatang. Fokus pengembangan akan diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekosistem dakwah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta perbaikan sistem pendataan pesantren secara nasional.

Basnang juga menegaskan bahwa data Kementerian Agama menunjukkan tidak ada penurunan signifikan pada jumlah santri secara nasional. Tantangan yang dihadapi lebih berkaitan dengan sistem pendataan, terutama pada pesantren yang memiliki satuan pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah.

Perwakilan keluarga besar KH. Abdul Wahab Hasbullah, Hizbiyah Rochim Wahab, menyatakan bahwa pemikiran dan perjuangan KH. Wahab Hasbullah masih sangat relevan hingga kini. Menurutnya, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut telah mewariskan teladan kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan, memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan, serta mengutamakan kemaslahatan umat.

“Generasi muda perlu terus diperkenalkan pada keteladanan para ulama pendiri bangsa agar memiliki pijakan yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, KH. Khoirul Fuad, menilai bahwa kajian terhadap pemikiran ulama terdahulu sangat penting untuk menjaga tradisi intelektual pesantren sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan. Ia menambahkan bahwa perjalanan hidup KH. Abdul Wahab Hasbullah menyimpan banyak pelajaran berharga mengenai kepemimpinan, pengabdian, dan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Kegiatan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah ini sebelumnya telah dilaksanakan di Lampung dan direncanakan akan berlanjut ke berbagai daerah lain, termasuk Kalimantan Timur dan wilayah Indonesia Timur. Tujuannya adalah untuk memperluas pemahaman generasi muda terhadap pemikiran dan keteladanan para ulama pendiri bangsa.