Indonesia Filipina Sepakat Barter Produk: Deal Terbaru

oleh -5 Dilihat
Indonesia Filipina Sepakat Barter Produk: Deal Terbaru

KabarDermayu.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa skema barter antara Indonesia dan Filipina tidak akan menimbulkan beban tambahan bagi pelaku usaha, baik eksportir maupun importir.

Skema ini justru dipandang sebagai solusi strategis untuk mendongkrak ekspor nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat.

Menurut Budi, mekanisme barter ini juga berpotensi memperkuat hubungan dagang bilateral kedua negara, asalkan didukung oleh komitmen dan kepercayaan yang kuat dari seluruh pihak yang terlibat.

“Saya pikir itu tidak membebani ekspor dan impor ya, tidak membebani eksportir dan importir,” ujar Budi di Jakarta pada Senin, 8 Juni 2026.

Pemerintah Indonesia telah menyampaikan kepada pihak Filipina mengenai pentingnya menjaga komitmen dan kepercayaan untuk memastikan program barter berjalan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Menariknya, skema barter ini tidak dibatasi pada produk-produk yang saling melengkapi dalam satu rantai industri. Seluruh komoditas berpeluang untuk diperdagangkan selama tercapai kesepakatan antara pelaku usaha dari kedua negara.

Budi memberikan contoh pengalaman serupa yang pernah dilakukan Indonesia dengan Mesir. Saat itu, Indonesia mengimpor kurma dari Mesir dan sebagai gantinya, Indonesia mengekspor produk kopi ke negara tersebut.

“Barter bisa untuk semua komoditas, tidak harus saling melengkapi. Ini pernah dilakukan juga dengan Mesir. Waktu itu kita impor kurma, kita ekspor kopi. Jadi itu yang kita lakukan. Nah, ke depan memang banyak komoditas,” jelasnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyaksikan langsung penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) imbal dagang tripartit antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina. Potensi transaksi dari kesepakatan ini diperkirakan mencapai US$350 juta, atau setara dengan Rp6,29 triliun.

Budi menekankan bahwa imbal dagang merupakan langkah strategis untuk mengatasi fluktuasi nilai tukar yang saat ini menekan mata uang kedua negara. Melalui skema ini, Indonesia berupaya menjaga stabilitas perdagangan tanpa harus selalu bergantung pada pembayaran tunai dalam dolar AS.

Terdapat dua MoU imbal dagang tripartit yang ditandatangani pada hari itu. Masing-masing MoU melibatkan tiga pihak. MoU pertama merupakan perjanjian antara Asian Pyrochem Technologies dari Filipina, PT Trade Barter Indonesia, dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia.

Ketiga pihak ini sepakat untuk melakukan barter serat abaka mentah dari Filipina dengan produk tekstil jadi dari Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai 50 juta dolar AS per tahun.

Sementara itu, MoU kedua ditandatangani oleh Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading.

Kesepakatan kedua ini mencakup pertukaran produk baja dari Indonesia dengan bijih besi asal Filipina. Nilai transaksi dari pertukaran ini mencapai 300 juta dolar AS per tahun, yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel.