KabarDermayu.com – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengemukakan adanya sinyal penguatan yang menandakan pasar keuangan Indonesia akan segera kembali normal dan sehat.
Menurutnya, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia belakangan ini merupakan indikator positif. Hal ini mencerminkan proses normalisasi yang sedang terjadi di pasar keuangan domestik.
Setelah periode kurva imbal hasil yang cenderung datar dalam waktu yang cukup lama, pasar kini bergerak menuju kondisi yang lebih sehat. Kondisi ini diharapkan dapat merefleksikan risiko perekonomian secara lebih akurat.
“Selama beberapa bulan terakhir kurva imbal hasil terlalu datar dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko ekonomi domestik maupun global. Kenaikan yield saat ini justru merupakan proses pemulihan fungsi pasar yang sehat,” ujar Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Fakhrul menjelaskan bahwa normalisasi yield sangat penting untuk menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia bagi investor global. Saat ini, mayoritas tenor Surat Berharga Negara (SBN) telah kembali berada di atas level 7 persen.
“Yield di atas 7 persen mulai membuat pasar obligasi Indonesia kembali kompetitif. Investor membutuhkan kompensasi risiko yang memadai untuk menempatkan modalnya,” tegasnya.
Ia memandang bahwa proses penyesuaian ini masih akan berlanjut secara bertahap. Tujuannya adalah agar pasar mencapai titik keseimbangan baru.
Investor, menurut Fakhrul, dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap. Hal ini disarankan ketika yield obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun berada di atas kisaran 7,3 persen.
Hal yang paling krusial saat ini bukanlah upaya mempertahankan biaya pendanaan pemerintah serendah mungkin. Yang terpenting adalah memastikan pasar keuangan Indonesia berfungsi secara kredibel.
Selain itu, pasar keuangan yang kredibel diharapkan mampu mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan ekonomi secara keseluruhan.
Meskipun demikian, Fakhrul menekankan bahwa kenaikan yield semata tidak cukup untuk mempertahankan kepercayaan investor dalam jangka panjang. Pemerintah juga dituntut untuk memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan fiskal ke depannya.
Dalam konteks ini, Fakhrul menilai pemerintah perlu menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga kredibilitas fiskal. Salah satunya adalah melalui evaluasi dan penyesuaian program-program prioritas agar tetap berkelanjutan.
Ke depannya, ia meyakini bahwa kombinasi dari normalisasi yield obligasi, stabilisasi rupiah, dan kebijakan fiskal yang kredibel akan menjadi fondasi yang kuat. Fondasi ini diharapkan mampu menarik kembali arus modal masuk ke Indonesia.
“Pada akhirnya investor tidak mencari yield yang rendah. Investor mencari negara yang kredibel, pasar yang berfungsi, dan kebijakan yang konsisten,” tutup Fakhrul. (Ant)





