Rupiah Melemah Rekor: Ekonomi Ungkap Pertanda Ini

oleh -14 Dilihat
Rupiah Melemah Rekor: Ekonomi Ungkap Pertanda Ini

KabarDermayu.com – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mencetak rekor baru menjadi indikasi kuat bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan ganda.

Kondisi ini merupakan gabungan dari ketegangan moneter global yang persisten dan tantangan struktural yang ada di dalam negeri.

Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah lebih dari sekadar fluktuasi angka.

Ini adalah sinyal dari dominasi tren ‘higher for longer’ yang terus berlanjut.

Nilai tukar rupiah saat ini telah menembus level psikologis baru, diperdagangkan di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar Amerika Serikat.

Hal ini terjadi meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, sebuah langkah yang biasanya bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar.

Rahma menjelaskan bahwa pelemahan ini mencerminkan situasi ekonomi Indonesia yang terhimpit oleh dua faktor utama.

Faktor pertama adalah tekanan moneter global yang belum mereda, sementara yang kedua adalah tantangan struktural domestik, terutama terkait energi dan fiskal, yang mulai diuji oleh pasar.

Baca juga: TNI Ikut Berburu Begal Atas Permintaan Resmi Polisi

Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunganya, pasar menilai bahwa selisih imbal hasil (yield) aset domestik masih belum cukup kompetitif dibandingkan dengan aset berdenominasi dolar AS.

Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang mencapai posisi 99,10 dan kenaikan imbal hasil US Treasury menunjukkan keyakinan investor bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Rahma menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang terus berlanjut mengindikasikan bahwa daya tarik instrumen investasi domestik sedang diuji oleh kekuatan magnet aset ‘safe haven’ yang sangat kuat.

Sinyal ini juga mengarah pada kondisi pasokan devisa yang semakin mengetat.

Beberapa faktor yang perlu diwaspadai termasuk kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, yang biasanya mencapai puncaknya pada kuartal kedua setiap tahun.

Pelemahan tajam rupiah ini, menurut Rahma, menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dolar yang melonjak tinggi dengan pasokan devisa yang justru melambat.

Peningkatan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan permintaan dolar untuk kebutuhan impor energi, seperti yang dibutuhkan oleh Pertamina.

Hal ini secara langsung menambah tekanan pada cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.

Terbaru, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk serangan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait, berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Rahma melanjutkan, pelemahan rupiah yang disertai dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga ke bawah level 7.000 memberikan sinyal bahwa investor mulai mengambil langkah-langkah yang lebih defensif.

“Makna di balik ini semua adalah pasar mulai menyoroti risiko pelebaran defisit anggaran dan implementasi kebijakan royalti tambang yang dinilai memberatkan emiten besar,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Rahma mencatat bahwa ekspektasi inflasi impor (imported inflation) juga sangat kuat.

Pelemahan nilai tukar rupiah akan secara otomatis meningkatkan biaya bahan baku industri, yang sebagian besar masih diimpor.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi di tingkat konsumen berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat menggerus daya beli masyarakat.

Rahma juga berpandangan bahwa rekor pelemahan rupiah ini bahkan menjadi sinyal bahwa instrumen suku bunga saja tidak lagi cukup untuk mengatasi masalah ini.

“Bank Indonesia kini dihadapkan pada situasi di mana mereka harus menggunakan senjata lain yang lebih agresif, seperti intervensi ganda (double intervention) di pasar valas dan DNDF, serta mengoptimalkan instrumen seperti SRBI dan SVBI untuk menarik modal kembali masuk,” katanya.