DPR Ingatkan Dampak Kenaikan Pertamax pada Daya Beli

oleh -8 Dilihat
DPR Ingatkan Dampak Kenaikan Pertamax pada Daya Beli

KabarDermayu.com – Anggota Komisi XII DPR RI, Shanty Alda Nathalia, memberikan perhatian serius terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax, yang mulai berlaku hari ini.

Menurutnya, pemerintah perlu segera mengantisipasi dampak lanjutan dari kenaikan tersebut terhadap daya beli masyarakat. Selain itu, stabilitas ekonomi nasional juga harus tetap terjaga di tengah gejolak harga energi global.

Shanty menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang memang dipengaruhi oleh dinamika harga energi di tingkat internasional. Namun demikian, ia menekankan pentingnya pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis.

Langkah-langkah tersebut bertujuan agar fluktuasi harga energi global tidak terus-menerus memberikan tekanan pada harga BBM di dalam negeri. Ia berharap pasokan energi yang lebih kompetitif dan efisien dapat diperoleh oleh pemerintah.

“Kami mencermati kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, yang mulai berlaku hari ini. Meskipun penyesuaian harga merupakan bagian dari mekanisme pasar dan dipengaruhi perkembangan harga energi global, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memperoleh pasokan energi yang lebih kompetitif dan efisien. Upaya tersebut penting agar kenaikan harga energi internasional tidak terus-menerus berdampak pada harga BBM dalam negeri dan membebani masyarakat,” ujar Shanty.

Lebih lanjut, Shanty menyoroti bahwa kenaikan harga Pertamax perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini dikarenakan mayoritas pengguna BBM jenis ini berasal dari kelompok masyarakat menengah.

Kelompok masyarakat menengah ini, lanjutnya, selama ini belum sepenuhnya merasakan manfaat dari BBM bersubsidi. Dalam situasi daya beli yang masih menghadapi berbagai tantangan, tambahan beban biaya transportasi dan mobilitas berpotensi mempengaruhi kemampuan konsumsi rumah tangga.

Kemampuan konsumsi rumah tangga ini merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Oleh karena itu, dampaknya perlu diwaspadai.

“Kenaikan harga Pertamax perlu mendapat perhatian karena mayoritas penggunanya berasal dari kelompok masyarakat menengah yang selama ini belum sepenuhnya menerima manfaat BBM subsidi. Dalam situasi daya beli yang masih menghadapi berbagai tantangan, tambahan beban biaya transportasi dan mobilitas berpotensi memengaruhi kemampuan konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional,” katanya.

Menurut Shanty, menjaga daya beli masyarakat menjadi faktor yang sangat penting dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, pemerintah perlu memastikan bahwa dampak kenaikan harga BBM non-subsidi tidak meluas ke berbagai sektor ekonomi lainnya.

Ia mendorong pemerintah untuk memastikan kenaikan harga BBM non-subsidi tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Pengendalian inflasi, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta kelancaran distribusi barang dan jasa perlu menjadi prioritas perhatian.

Hal ini penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah kenaikan biaya energi yang terjadi. “Kami mendorong pemerintah untuk memastikan kenaikan harga BBM non-subsidi tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Pengendalian inflasi, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta kelancaran distribusi barang dan jasa perlu menjadi perhatian agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah kenaikan biaya energi,” tambahnya.

Shanty berharap pemerintah dapat terus memperkuat strategi ketahanan energi nasional. Hal ini dapat dilakukan melalui diversifikasi sumber energi, peningkatan efisiensi dalam rantai pasok, serta optimalisasi kebijakan.

Optimalisasi kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan sektor energi dan perlindungan terhadap kondisi ekonomi masyarakat menjadi kunci utama.