Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya oleh Wamendagri Bima Arya

oleh -7 Dilihat
Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya oleh Wamendagri Bima Arya

KabarDermayu.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan krusialnya penguatan karakter generasi muda. Ia menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai budaya, moral, dan kebangsaan merupakan fondasi penting untuk mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak semata-mata diukur dari penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan juga dari kekuatan karakternya.

“Peradaban besar ditopang oleh pengetahuan dan dipertahankan oleh karakter. Karena itu, tugas kita hari ini adalah fokus membangun karakter dan mengusung kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” ujar Bima saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Bima menjelaskan bahwa tantangan dalam pembentukan karakter generasi muda saat ini semakin kompleks. Hal ini disebabkan oleh pesatnya perkembangan media sosial yang memungkinkan penyebaran informasi secara cepat, namun seringkali tanpa proses verifikasi yang memadai. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, etika yang baik, dan kebijaksanaan.

Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu menyaring informasi yang diterima dan tetap berpegang teguh pada kebenaran. Kemampuan ini menjadi sangat vital di era digital yang serba terhubung.

Ia menilai bahwa upaya mempersiapkan generasi penerus bangsa tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal dan peningkatan kompetensi semata. Menurutnya, karakter yang kuat dan integritas yang tinggi harus berjalan seiring dengan kecerdasan. Kombinasi ini akan melahirkan pemimpin yang tidak hanya cakap, tetapi juga bertanggung jawab.

Dalam kesempatan tersebut, Bima juga mengajak generasi muda untuk memiliki wawasan global tanpa melupakan akar budaya dan identitas kebangsaan mereka. Ia mengutip semangat para pendiri bangsa yang memiliki pandangan luas namun tetap berakar kuat pada tradisi lokal.

“Melayu itu kosmopolitan. Menjejak bumi Melayu, berpijak di bumi Nusantara, dan menatap dunia. Itulah para founding fathers kita. Mereka berangkat dari budaya lokal, berpikir dalam bingkai nasional, dan berkiprah di tingkat global,” katanya, menekankan pentingnya keseimbangan antara lokalitas dan globalitas.

Lebih lanjut, Bima menuturkan bahwa tradisi intelektual Melayu telah melahirkan banyak tokoh penting yang memberikan kontribusi signifikan bagi bangsa Indonesia. Ia menyebut nama-nama seperti Raja Ali Haji dan Buya Hamka sebagai contoh nyata. Menurutnya, pemikiran dan keteladanan dari para tokoh tersebut masih sangat relevan untuk membentuk karakter generasi muda di tengah berbagai tantangan zaman.

Oleh karena itu, ia berharap ISMI dapat berperan aktif dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, etika, dan kebangsaan. Hal ini dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan edukasi dan pengembangan pemikiran. Upaya ini dinilai sangat penting untuk mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya mampu menghadapi tantangan masa depan, tetapi juga dapat memanfaatkan peluang bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. (LAN)