Manfaat Program MBG: Atasi Kelaparan dan Tingkatkan Gizi Anak

oleh -7 Dilihat
Manfaat Program MBG: Atasi Kelaparan dan Tingkatkan Gizi Anak

KabarDermayu.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memaparkan sejumlah temuan positif terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), program ini terbukti efektif dalam menurunkan angka siswa yang mengalami kelaparan saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Qodari mengungkapkan bahwa sebelum program MBG digulirkan, mayoritas siswa Indonesia mengikuti pelajaran dalam kondisi lapar. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu konsentrasi belajar dan berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Ia merujuk pada laporan Bappenas bulan November 2025 yang menunjukkan bahwa 56 persen siswa merasa lapar saat jam pelajaran berlangsung.

Setelah program MBG diterapkan dengan baik, angka tersebut turun drastis menjadi hanya 16 persen siswa yang merasa lapar di sekolah.

Sebaliknya, jumlah siswa yang merasa kenyang saat belajar meningkat hampir dua kali lipat. Jika sebelumnya hanya 43 persen siswa yang merasa kenyang, kini angkanya mencapai 84 persen.

“Ini adalah manfaat yang mungkin belum banyak diketahui orang,” ujar Qodari.

Selain berdampak pada tingkat kenyang siswa, program MBG juga berhasil meningkatkan kualitas konsumsi gizi anak-anak Indonesia. Salah satu indikatornya adalah peningkatan konsumsi buah yang melonjak dari 26 persen menjadi 84 persen.

“Jika kita berbicara tentang vitamin C dan manfaat buah untuk pencernaan, ternyata dulu sedikit sekali anak-anak kita yang mengonsumsi buah. Mayoritas tidak makan buah. Sekarang sudah naik 58 persen, dari 26 persen menjadi 84 persen,” jelas Qodari.

Peningkatan juga tercatat pada konsumsi protein hewani. Data Bappenas menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani siswa meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.

“Ini tentu sangat baik. Kita ingin sepak bola Indonesia maju, dengan pemain yang bertubuh besar dan tinggi, seperti pemain Jepang. Mereka cerdas, gizinya bagus. Jangan sampai kita terus dianggap sebagai bangsa yang IQ-nya kurang. Kualitas gizi yang baik, terutama dari protein, sangat penting,” tuturnya.

Tak hanya memberikan manfaat kesehatan dan pendidikan, program MBG juga disebut membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat. Sebanyak 86 persen pemasok program MBG melaporkan adanya kenaikan omzet usaha mereka.

Qodari menjelaskan bahwa sebagian besar rantai pasok program MBG melibatkan pelaku usaha lokal. Sebanyak 62 persen pemasok berasal dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, 18 persen dari koperasi, dan hanya 14 persen yang berasal dari pemasok tingkat provinsi.

Dari sisi pelaksanaan program, mayoritas sekolah juga memberikan penilaian positif terhadap tata kelola MBG. Sebanyak 93 persen sekolah menyatakan pelaksanaan program berjalan dengan baik, sementara menu inti MBG yang terdiri atas nasi, protein seperti ayam atau telur, serta sayuran telah terpenuhi di 96 persen sekolah.

“Jadi, sebetulnya banyak aspek positif dari MBG ini. Penting untuk tidak hanya melihat sisi negatifnya saja. Sisi negatifnya perlu kita koreksi, sementara sisi positifnya terus kita tingkatkan,” ujar Qodari.