KabarDermayu.com – Pengadilan Oslo telah menjatuhkan vonis empat tahun penjara kepada Marius Borg Hoiby, putra tiri Putra Mahkota Norwegia, Haakon. Hoiby dinyatakan bersalah atas dua kasus pemerkosaan, satu kasus kekerasan dalam rumah tangga, serta beberapa tindak pidana lainnya.
Selama persidangan, Hoiby membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya, termasuk dakwaan pemerkosaan. Namun, ia mengakui beberapa pelanggaran yang dianggap lebih ringan. Hoiby masih memiliki hak untuk mengajukan banding atas putusan yang telah dijatuhkan.
Sebelumnya, jaksa penuntut telah menuntut Hoiby dijatuhi hukuman tujuh tahun tujuh bulan penjara. Tuntutan ini menunjukkan keseriusan pihak penuntut dalam menangani kasus yang melibatkan figur publik.
Melansir dari laman NBC News pada Kamis, 18 Juni 2026, persidangan Hoiby yang berlangsung selama tujuh pekan terakhir ini menarik perhatian luas publik Norwegia. Hal ini dikarenakan terungkapnya berbagai aspek pribadi Hoiby, mulai dari masalah kecanduan narkoba, rekaman video pribadi terkait hubungan seksual, hingga lebih dari 800 pesan elektronik yang disajikan sebagai barang bukti.
Dalam persidangan, terungkap pula bahwa salah satu dugaan pemerkosaan terjadi di ruang bawah tanah kediaman keluarga Putra Mahkota. Fakta ini menambah dimensi serius pada kasus yang sedang disidangkan.
Citra Keluarga Kerajaan Menjadi Taruhan
Menurut Ketil Raknes, seorang profesor madya komunikasi politik di Kristiania University of Applied Sciences, perhatian publik yang begitu besar terhadap kasus ini disebabkan oleh adanya kontras tajam antara citra keluarga kerajaan yang selama ini dikenal nyaris sempurna dengan berbagai tuduhan yang menyeret nama Hoiby. Kasus ini, bersama dengan sejumlah kontroversi lain yang menimpa keluarga kerajaan, turut memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap institusi monarki Norwegia.
Perkara hukum yang dihadapi Hoiby ini juga bertepatan dengan permintaan maaf Putri Mahkota Mette-Marit. Permintaan maaf tersebut terkait dengan apa yang ia sebut sebagai penilaian yang buruk karena tetap menjalin kontak dengan pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein, setelah Epstein divonis bersalah pada tahun 2008.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Norstat dan dirilis pada 21 Februari, saat persidangan masih berlangsung, menunjukkan penurunan dukungan terhadap sistem monarki ke angka terendah sepanjang sejarah, yaitu 60 persen. Angka ini turun signifikan dari 70 persen yang tercatat pada bulan Januari. Sebaliknya, dukungan terhadap sistem pemerintahan alternatif mengalami peningkatan dari 19 persen menjadi 27 persen.
Namun, pada bulan Mei, popularitas keluarga kerajaan menunjukkan tren perbaikan. Survei Norstat kembali mengungkapkan bahwa 64 persen responden masih mendukung monarki, sementara 23 persen menginginkan sistem pemerintahan yang berbeda. Hal ini menunjukkan fluktuasi opini publik terkait institusi kerajaan.
“Ini menjadi krisis yang sangat berat bagi keluarga kerajaan karena mereka menghadapi dua krisis sekaligus. Mereka juga mendapat banyak kritik terkait cara menangani persoalan yang berkaitan dengan dokumen Epstein,” kata Raknes.
Putusan pengadilan ini juga muncul di tengah situasi pribadi yang sangat sulit bagi Mette-Marit, ibu kandung Hoiby. Bulan ini, ia secara resmi masuk dalam daftar tunggu transplantasi paru-paru nasional karena kondisi kesehatannya yang memburuk secara signifikan.
Mette-Marit diketahui mengidap fibrosis paru, sebuah penyakit yang menyebabkan kesulitan bernapas semakin parah dari waktu ke waktu. Menurut tim dokter, tanpa adanya transplantasi paru-paru, harapan hidupnya diperkirakan hanya sekitar satu tahun lagi.
Raknes berpendapat bahwa kondisi kesehatan Mette-Marit turut memengaruhi cara pandang publik terhadap kasus hukum yang dihadapi putranya, terutama menjelang pembacaan putusan akhir.
“Pemberitaan sekarang jauh lebih tenang dan berimbang. Orang-orang melihat bahwa keluarga ini sedang menghadapi masa yang sangat sulit. Karena itu, banyak yang merasa ini bukan saat yang tepat untuk terus menghakimi mereka secara moral seperti yang mungkin terjadi pada awal kasus ini,” ujarnya.
Sebagai informasi tambahan, Marius Borg Hoiby diketahui menjadi bagian dari keluarga kerajaan Norwegia setelah ibundanya, Mette-Marit, menikah dengan Putra Mahkota Haakon pada tahun 2001. Pernikahannya membawa serta anak-anak dari pernikahan sebelumnya ke dalam keluarga kerajaan.





