KabarDermayu.com – Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hasanuddin Wahid, membantah pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, yang menyebut Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin tidak pernah menjabat sebagai pengurus NU.
Menurut Hasanuddin Wahid, yang akrab disapa Cak Udin, pernyataan Gus Yahya tersebut menunjukkan bahwa Ketua Umum PBNU periode saat ini kurang memahami struktur kepengurusan NU di tingkat bawah.
“Kalau dinyatakan Cak Imin tidak pernah jadi pengurus PBNU, NU di semua tingkatan, mungkin Gus Yahya kebanyakan lihat ke langit ya,” ujar Cak Udin kepada wartawan di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, pada Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa Cak Imin pernah menjabat sebagai Rais Syuriah NU di Jakarta Selatan. Posisi ini, menurut Cak Udin, seharusnya sudah cukup dikenal oleh pengurus PBNU.
“Karena Cak Imin itu Rais Syuriah Ranting NU di Jakarta Selatan. Nah, kalau dia saja enggak ngerti dengan Ranting Syuriahnya saja enggak kenal gitu, enggak tahu, ya berarti kan dia enggak pernah turun ke bawah,” tegasnya.
Sebelumnya, Gus Yahya menanggapi pernyataan Cak Imin mengenai perlunya penyegaran kepemimpinan di PBNU. Cak Imin berpendapat bahwa pemimpin PBNU sebelumnya belum membawa perubahan yang signifikan, sehingga membutuhkan pembaruan di pucuk pimpinan.
Menyikapi pandangan tersebut, Gus Yahya menilai bahwa pendapat Cak Imin muncul karena kurangnya pemahaman tentang NU. Ia secara spesifik menyebutkan bahwa Cak Imin belum pernah menjadi pengurus NU di semua tingkatan.
“Ya silakan saja kalau Pak Muhaimin berpendapat begitu. Kalau Pak Imin mengatakan begitu saya kira ya karena beliau memang ya mungkin kurang mengerti tentang NU ya,” ucap Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, pada Selasa, 14 Juli 2026.
Gus Yahya menambahkan, “Karena seumur hidup beliau belum pernah jadi pengurus NU di semua tingkatan. Jadi pengurus ranting aja belum pernah. Jadi beliau tidak tahu perubahannya-perubahannya seperti apa kan beliau tidak tahu.”
Pernyataan Gus Yahya ini mengacu pada pandangannya bahwa pengalaman langsung dalam struktur kepengurusan NU sangat penting untuk memahami dinamika dan perubahan yang terjadi di dalam organisasi tersebut.
Terkait dengan hal ini, PKB melalui Sekjennya, Hasanuddin Wahid, mencoba meluruskan narasi yang berkembang. Ia menekankan bahwa Cak Imin memiliki rekam jejak yang jelas dalam kepengurusan NU, meskipun mungkin pada tingkatan ranting.
Hasanuddin Wahid juga menyiratkan bahwa Gus Yahya perlu lebih aktif memantau dan berinteraksi dengan struktur kepengurusan NU di tingkat bawah agar memiliki pemahaman yang lebih komprehensif.
Perbedaan pandangan antara PKB dan PBNU ini menyoroti pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap organisasi berbasis massa seperti Nahdlatul Ulama. Pengalaman di tingkat akar rumput seringkali memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan dengan pandangan dari tingkat pusat.
Keterlibatan Cak Imin dalam kepengurusan NU, sekecil apapun itu, menjadi poin penting yang diangkat oleh PKB untuk membantah klaim ketidakberpengalaman tersebut.
Hal ini juga menunjukkan adanya dinamika politik internal di kalangan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, terutama menjelang agenda-agenda penting ke depan.
Pernyataan Gus Yahya yang menyebut Cak Imin “kebanyakan lihat ke langit” tampaknya menjadi metafora untuk menggambarkan pandangan yang kurang membumi atau kurang memahami realitas di lapangan.
Namun, PKB dengan tegas menepis anggapan tersebut dengan menunjukkan bukti keterlibatan Cak Imin dalam struktur NU.
Respons cepat dari Sekjen PKB ini menunjukkan keseriusan partai tersebut dalam menjaga citra dan rekam jejak ketumnya di mata publik, terutama di kalangan warga Nahdliyin.
Perdebatan ini juga bisa menjadi cerminan dari perbedaan strategi komunikasi dan pendekatan dalam mengelola organisasi yang besar dan kompleks.
Penting bagi kedua belah pihak untuk saling memahami dan menghargai peran masing-masing dalam membangun bangsa.
Klaim tentang pengalaman pengurus NU ini menjadi krusial mengingat NU memiliki jutaan anggota dan pengurus yang tersebar di seluruh Indonesia dan bahkan di luar negeri.
Setiap tingkatan kepengurusan memiliki tantangan dan kontribusinya sendiri bagi organisasi.
Oleh karena itu, penilaian terhadap pengalaman seseorang dalam NU seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek dan tingkatan kepengurusan.
PKB berharap agar pernyataan Gus Yahya tidak disalahartikan dan agar publik memahami bahwa Cak Imin memiliki kedekatan dan pengalaman yang cukup dengan NU.
Sementara itu, PBNU sendiri memiliki mekanisme internal untuk menilai kepemimpinan dan kontribusi para pengurusnya.
Perdebatan ini diharapkan dapat mendorong dialog yang lebih konstruktif di antara kedua lembaga tersebut demi kemajuan NU dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Gus Yahya sendiri dikenal sebagai tokoh yang memiliki visi jauh ke depan, namun dalam kasus ini, PKB merasa perlu untuk mengingatkan kembali tentang pentingnya pengalaman di tingkat akar rumput.
Pertukaran pandangan ini menunjukkan bahwa dinamika di dalam NU dan partai-partai yang berafiliasi dengannya selalu menarik untuk dicermati.
Klarifikasi dari PKB ini diharapkan dapat meredakan potensi kesalahpahaman yang mungkin timbul dari pernyataan Gus Yahya.
Fokus pada pengalaman kepengurusan NU menjadi titik sentral dalam polemik ini.
PKB berupaya membuktikan bahwa Cak Imin tidaklah asing dengan NU, bahkan memiliki keterlibatan yang nyata.
Hal ini penting untuk menegaskan posisi Cak Imin sebagai figur yang mewakili aspirasi warga Nahdliyin.
Dengan demikian, polemik ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan publik, terutama yang menyangkut organisasi sebesar NU.





