Hercules kini jadi dewan kehormatan SBNI, kisahnya dari tangan hilang hingga jadi tokoh nasional

oleh -2 Dilihat
Hercules kini jadi dewan kehormatan SBNI, kisahnya dari tangan hilang hingga jadi tokoh nasional

KabarDermayu.com – Rozario Marshal, yang lebih dikenal dengan nama Hercules, kini mengemban amanah baru sebagai Dewan Kehormatan Serikat Buruh Nasional Indonesia (SBNI). Jabatan ini menandai babak baru dalam perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku selama puluhan tahun.

Sebelumnya, Hercules dikenal sebagai sosok Ketua Umum GRIB Jaya. Ia juga sempat dijuluki sebagai penguasa Tanah Abang. Namun, di balik citra tersebut, tersimpan kisah pilu masa kecilnya.

Pria kelahiran Timor Timur ini mengalami tragedi yang mengubah hidupnya. Di usia belia, ia kehilangan satu tangan dan kedua orang tuanya akibat konflik bersenjata.

Perjalanan hidup yang dimulai dari penderitaan ini membawanya melewati berbagai fase. Mulai dari menjadi portir TNI AD, dikenal sebagai tokoh jalanan, hingga kini dipercaya memegang berbagai jabatan organisasi.

Resmi Dikukuhkan sebagai Dewan Kehormatan SBNI

Hercules resmi menerima jabatan baru sebagai Dewan Kehormatan SBNI dalam Kongres II Serikat Buruh Nasional Indonesia. Acara tersebut digelar pada Minggu, 12 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Hercules menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia berterima kasih atas penghargaan tersebut.

Menurut Hercules, pengukuhan ini menjadi awal kolaborasi yang semakin erat antara GRIB Jaya dan SBNI. Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita SBNI, PNJ dan GRIB Jaya, kita satu wadah, kita satu kekuatan untuk NKRI harga mati,” tegasnya.

Selain jabatan ini, Hercules juga sebelumnya telah dipercaya sebagai Panglima Pondok Pesantren Jawa Barat sejak Februari 2025.

Kehilangan Satu Tangan di Usia 12 Tahun

Jauh sebelum dikenal publik, Hercules mengalami peristiwa tragis yang membekas sepanjang hidupnya. Pria yang dikenal sebagai pensiunan preman ini lahir di Ainaro, Timor Timur (kini Timor-Leste), pada 27 Mei 1968.

Saat berusia sekitar 12 tahun, ia menjadi korban serangan di wilayah Ainaro pada 1978. Peristiwa tersebut bukan hanya menyebabkan Hercules kehilangan satu tangan, tetapi juga merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Musibah itu menjadi titik awal kehidupan baru yang penuh perjuangan bagi Hercules.

Direkrut ke Jakarta Setelah Tragedi

Setelah tragedi tersebut, Hercules kemudian direkrut oleh Zacky Anwar Makarim sebagai Tenaga Bantuan Operasional (TBO). Ia lalu dibawa ke Jakarta bersama beberapa pemuda asal Timor Timur lainnya.

Di ibu kota, kehidupannya mulai berubah. Sebelum dikenal sebagai tokoh yang disegani di dunia jalanan, Hercules diketahui sempat aktif dalam kegiatan organisasi masyarakat berbasis keagamaan.

Ia juga disebut sering mengikuti kegiatan sosial, termasuk membantu santunan bagi anak-anak yatim.

Pernah Menjadi Portir TNI AD

Perjalanan Hercules kemudian membawanya bekerja sebagai portir untuk TNI AD pada masa integrasi Timor Timur. Dari pekerjaan tersebut, ia mulai mengenal banyak kalangan hingga akhirnya menetap di Jakarta.

Pada dekade 1990-an, namanya mulai dikenal luas setelah membangun kelompok di kawasan Tanah Abang. Seiring waktu, Hercules menjadi salah satu figur yang paling disegani di dunia bawah tanah Jakarta.

Namanya beberapa kali menghiasi pemberitaan media dan kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan keamanan maupun dinamika politik nasional.

Hubungan Dekat dengan Prabowo Subianto

Hercules juga dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia secara terbuka memberikan dukungan kepada Prabowo pada Pemilu Presiden 2024.

Menurut pengakuannya, dukungan tersebut bukan tanpa alasan. Hercules beberapa kali mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kenangan masa lalu bersama Prabowo yang membuatnya merasa memiliki utang budi.

Karena alasan tersebut, ia menyatakan akan terus memberikan dukungan kepada Prabowo.

Memutuskan Menjadi Mualaf

Perjalanan hidup Hercules kembali mengalami perubahan besar ketika memutuskan memeluk agama Islam pada 2010. Keputusan tersebut diungkap sang istri, Nia Dania.

Menurut Nia, Hercules meminta sendiri untuk didaftarkan menjadi mualaf beberapa hari menjelang Hari Raya Idulfitri.

Sejak saat itu, penampilan dan aktivitas Hercules mulai berubah. Ia lebih sering terlihat mengenakan peci serta aktif menghadiri kegiatan keagamaan.

Publik juga beberapa kali melihat kedekatannya dengan sejumlah ulama, seperti Habib Luthfi bin Yahya dan Ustaz Abdul Somad.

Dari Masa Sulit Hingga Dipercaya Memegang Jabatan

Kini perjalanan hidup Hercules telah memasuki babak baru. Selain menjabat sebagai Ketua Umum GRIB Jaya, ia juga dipercaya menjadi Panglima Pondok Pesantren Jawa Barat dan terbaru sebagai Dewan Kehormatan SBNI.

Perjalanan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam kehidupannya. Dari seorang anak yang kehilangan tangan dan kedua orang tuanya akibat konflik, kemudian menjalani kehidupan penuh tantangan di Jakarta, hingga akhirnya dipercaya mengemban berbagai amanah di organisasi kemasyarakatan.

Kisah Hercules pun menjadi bukti bahwa perjalanan hidup seseorang dapat berubah seiring waktu. Masa lalu yang penuh luka tidak selalu menentukan masa depan, terlebih ketika seseorang terus berusaha bangkit dan mengambil peran baru dalam kehidupan bermasyarakat.